Tampilkan postingan dengan label cafestudiodelapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cafestudiodelapan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2011

Bermain (Arsitektur) ke Sanggar Anak Tangguh



Arsitek selalu dihujani sekian deadline dan tuntutan gambar. Sibuk tak kenal waktu. Tapi 30 Oktober 2011 Minggu pagi itu berbeda. Tak ada dedline, tak ada tuntutan gambar. Baru saja semua selesai pada malam beberapa jam sebelumnya.

Pagi itu pukul 09.30 Rizeki Raharja, Cok Gung Pamanayogi, dan Hadi Pramana sudah berkumpul di markas Bensley Design Studios Bali di Sanur. Sementara saya, tuan rumah, baru bangun dan baru menyusul 30 menit kemudian setelah ngebut bersepeda  di tengah cuaca yang suram-mendung. Cok Gung sudah siap dengan materi dan peralatannya. Hadi Pramana siap dengan sapaan-sapaan kanak-kanaknya. Rizeki selalu siap dengan senyuman dan sekian cerita entah kemana-mana. Dan saya masih harus menyadarkan diri bahwa kami akan mengunjungi Sanggar Anak Tangguh dan bermain arsitektur bersama anak-anak sanggar itu. Mas Adi, begitu kami memanggil Komang Adiartha, sudah lama dan berulang kali mengundang kami untuk bermain bersama anak-anak sekolah alternatif asuhannya. Bermain tentang apa itu arsitektur.

Senin, 17 Oktober 2011

Gak Ada Embel-Embel Arsitektur





Saya tulis status fesbuk malam minggu saya: 
Ada acara 70 Tahun Sunaryono Basuki Ks: Peluncuran dan Bedah Buku "Antara Jimbaran dan Lovina".
Hari Minggu, 16 Oktober 2011  jam 11 di Danes Art Veranda. 
Saya tulis pula sebuah harapan sebagai penutupnya:
Semoga saja teman-teman diberi kesempatan menghadiri.


...................

Seorang teman bertanya apa ini acara arsitek. 
Wah, saya jawab bukan. 
Saya bilang gitu karena gak ada tuh embel-embel berbau arsitektur. 
Bahkan, saya menebak, ini lebih ke kebudayaan & sastra. 
Lalu teman saya dengan mantap mengajukan pertanyaan kritis: lalu buat apa arsitek datang? Wah, bingung saya jawab pertanyaan cerdas-kritis model beginian. 
Saya jawab ngawur: Lha ini biar seirama dengan pak dosen arsitek yang baru dipilih jadi wakil mentri pendidikan yang bidangi urusan kebudayaan. 
Biar lebih meyakinkan saya bilang si pak mentri dari arsitek itu kan juga seirama dengan presiden pertama kita. Ya kita ngikut juga donk musti paham hal-hal begituan. 
Lalu teman saya sekali lagi praktekkan semangat ala filsuf yang gemar bertanya sangat kritis: apa ini bermanfaat untuk hadapi bos kita & segenap deadline? 
Kalo tidak, gitu kata temen saya, jelas ini tidak praktis & menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat yang sudah beruntung dikasih kesempatan menjalaninya.
Wah, memang benar sekali ini teman saya. 
Heran betul saya kenapa dia gak jadi filsuf aja.


(Tidak hanya filsuf. Teman saya ini berbakat pula jadi detektif. 
Bilang gini dia di akhir dialog: 
Ah, kau paling datang buat numpang makan siang gratis.)



Rabu, 18 Mei 2011

Pameran "DYSFASHIONAL" di Galeri Nasional Indonesia




I
I
I


Berikut ini hasil jepretan dari Pameran “DYSFASHIONAL” 
yang diadakan di Galeri Nasional  Indonesia, Jakarta. 
Sabtu siang itu, 14 Mei 2011, pameran dinikmati cukup banyak pengunjung. 
Suatu tanda positif bahwa apresiasi masyarakat tetap ada. 
Bahwa peradaban kita belum akan 'mandek'.




-----

Project T70





----










“Are you really what you wear or what you wear or what you wear today is not important anymore?”

- ruangrupa -

------------



PARASIT







-----

EDUCATION

“We seek reaffirm how cultural education is significant to be woven in the very fabric of the present and future generation.”


- Oscar Lawalata -






I
I
I



----

“DYSFASHIONAL was conceived as a site where the exhibition space becomes an experimentation space, an exploration ground for both the artists and visitors.

As a fashion exhibition which does not exhibit clothing, DYSFASHIONAL shows that fashion is, beyond the objects that materialize it, and unstable state of sensibility”


- Luca Marchetti & Emanuele Quinz -

Curators of the Exhibition
----

Selasa, 17 Mei 2011

Dari Pameran “Every House Tells A Story”



Pameran “Every House Tells A Story”, 
Lantai 4 FX Plaza, Senayan, Jakarta,
hari terakhir yang sepi, 
Kamis, 12 Mei 2011.






------

 ------
 ------
 ------
 ------

I
I
I
I
I


Jakarta

Senin, 21 Maret 2011

Parakan, Sebuah Kunjungan Singkat.



Jalan-jalan di Parakan adalah sebuah rencana sampingan di hari Minggu 5 Maret 2011. Rencana awal jelas: menjemput kawan yang mengikuti workshop Desa-Kota, belajar dari radio kayu 'Magno', di Temanggung, Jawa Tengah. Tapi jalan-jalan di Parakan menjadi hal yang lebih bermakna hari itu dibanding menjemput si kawan beserta ceritanya.

Kami parkir mobil di Klenteng Parakan, berjalan kaki menuju tempat tujuan sambil menikmati-mencermati suasana kotanya yang sederhana (apa ini kota?). Lengang, tak ramai kendaraan, sejuk, bersahabat buat berjalan kaki. Coretan kreatif membuyarkan formalitas dinding-dinding kaku-beku. Sebuah bangunan 'spontan' pun layak diabadikan kamera.


Menikmati Rumah Bhante (agamawan yang juga administratur dalam agama Budha).
Sebuah bangunan tua terpelihara yang merupakan perpaduan China dan Eropa.
Rumah ini gabungan dari dua rumah saling membelakangi.
Dan akhirnya mengaburkan mana depan mana belakang.
Mungkin tak perlu ada belakang, semua sama-sama depan menghadap jalan.




Mengintip pengolahan tembakau. Tembakau-tembakau 'rusak' yang diolah dan disimpan-dikeringkan hingga bertahun-tahun untuk kemudian digunakan kembali. Industri rumahan sumber kesibukan warga.

Dalam perjalanan kembali ke Klenteng Parakan. 
Detail dari bangunan sederhana yang mengingatkan permainan arsitektur Mangunwijaya. 
Apa benar Mangunwijaya?

Tiba lagi di Klenteng Parakan.
Sayang cuma satu foto tersisa.
Dan sayang lagi tidak mampu menceritakan prosesi upacara.

Memang tak banyak kata-kata yang bisa diceritakan di sini.
Dan tak banyak gambar-gambar yang bisa menceritakan pengalaman kami.
Namun sekiranya teman-teman bisa mengalami sendiri.
Silakan kunjungi Parakan.
Bayu, Rama, Errik, Imelda, dan Krishna (di balik kamera)