Tampilkan postingan dengan label Ketika Jenuh nge-CAD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketika Jenuh nge-CAD. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2013

Karena Ketidaktahuan

walaupun saya tidak pernah melihat Tuhan
bukan berarti Tuhan tidak ada
kalaupun saya pernah merasakan Tuhan
bukan berarti Tuhan itu ada

saya tidak tahu Tuhan ada atau tidak

Tuhan itu misteri

misteri indah karena ketidaktahuan

Jumat, 15 Februari 2013

Gimana Mbikinnya




Kamis, 14 Februari 2013

Pegawai Bank dan Arsitek




Rabu, 26 September 2012

Runtuhnya Plafon Kami



Ini tentang kaum-kaum yang habitatnya bersahabat dengan gunjang-ganjing-naik-turun-gak stabil-penuh dinamika-nyerempet-nyerempet maut. Maksudnya orang-orang yang dunia kerjanya gak monoton-rutin tapi kadang tenang kadang ribut dikejar hantu deadline. Khas kaum kreatif-inovatif-seni(-juga kewartawanan, mahasiswa mungkin iya). Mirip-mirip dunia tentara: Kadang damai, kadang perang. Dan mereka suka bikin perayaan tiap lolos dari deadline. Mirip-mirip dunia tentara: Kalau menang, perang usai, wah perayaannya....

Sulit memang untuk dibayangkan kaum-kaum berhabitat stabil-serba rutin-mapan-pasti-pasti saja hidupnya. Memang ini di luar gambaran kawan-kawan perbankan, atau pegawai negeri yang adem ayem itu, (atau orang kaya baru rangkap politisi yang sudah nyaman duduk di singgasana negeri atas awan yang hari-hari serba tentram baca statistik-statistik kemakmuran entah darimana-bagaimana hitung-hitungnya..)

Untuk itu kami bantu berikan ilustrasi, betapa gila dan gawat juga perayaan-perayaan lepas dari maut deadline.


I
I
I


Kira-kira begitu. Kami publikasikan gambar itu. Tapi rupa-rupanya gambaran tersebut menimbulkan citra yang tidak-tidak seolah-olah kami kaum-kaum tak stabil tapi kreatif-inovatif (yang suka dikejar hantu deadline) gemar perayaan-perayaan kemenangan gaya milisi pemberontak Libya atau rakyat Irak yang pro-sekutu pasca Saddam (atau nanti milisi Suriah pasca Assad) hingga sampai-sampai plafon dunia kerja kami pun runtuh.

Runtuh iya (demikianlah pada Rabu 18 Juli 2012 di markas BDS Bali). Perayaan agak gila iya juga. Tapi ada banyak faktor yang sangat rumit (jadi jangan terlalu cepat ambil kesimpulan, suka prasangka-prasangka) soal runtuhnya plafon kami. Untuk itu kami mencoba bersikap sangat objektip untuk luruskan gambaran-gambaran yang mencong-mencong di kepala kawan-kawan (yang sulit sekali membayangkan dunia yang kami maksudkan).

Salah satu situasi darurat deadline. Tak ada yang senyum.
Kalau deadline akhirnya berakhir. Terlihat ada senyum-senyum. (Wajar)
Ekspresi kebebasan dirayakan dengan makanan. Penuh rasa syukur nikmati jerih payah. (Masih wajar)
Mulai ada yang aneh-aneh: perayaan kebebasan dengan parade tank. (Mulai tak wajar)
Ini sudah berlebih. Merayakan kebebasan pakai bom alih-alih kembang api. (Sangat tak wajar)
Akhirnya: runtuhnya plafon kami. Runtuh tahap awal (sebelum runtuh semua dan malang nasib orang-orang ini).
Orang-orang lenyap. Mungkin tertimpa reruntuhan (kebetulan sekali yang ambil foto ini datang terlambat).


----------------

Tapi, sekali lagi, jangan terlalu cepat ambil kesimpulan tidak-tidak seolah-olah telah terjadi bencana kemanusiaan dengan korban jiwa cukup banyak.
Ternyata semua selamat. Dan untuk itu kembali dilakukan perayaan (kali ini secara wajar sekalian berbuka puasa).
 ----------------

Pelajaran berharga: 
1. Over euphoria can kill you.
2. Jangan cepat-cepat ambil kesimpulan (juga menerima cerita ini mentah-mentah).


Rabu, 16 Mei 2012

Hidup Mulai Teratur


Ini sudah sekitar sebulan berjalan.
Tak ada lagi di BDS Bali istilah-istilah militer berseliweran.
Semua pelan-pelan sudah mulai normal.
Itu artinya hidup teratur layaknya rakyat sipil kantoran.

Status-status berbau darurat mulai diubah.
Tak ada lagi namanya 'siaga 24 jam'.
Tak ada lagi namanya 'garis depan'.
Istilah 'pasukan katak' ditiadakan.
Stok-stok ransum juga tinggal kenangan.
Tak ada lagi Kompi BDS, Peleton ini-itu.
Jendral-jendralan, prajurit-prajuritan, tak ada lagi.

Betul-betul layaknya kantoran.
Tiap Senin tunggu jadwal kerjaan.
Jumat antri print laporan.
Tiap hari masuk jam setengan sembilan.
Tertib pulang jam enaman.
Sabtu-Minggu isi dengan liburan.
Ketemu lagi di Senin penuh kesegaran.
(memang cuma tinggal urusan pakaian yang belum kayak orang kantoran)

Memang akhirnya banyaklah waktu luang tersedia.
Macam-macam cara mengisinya.
Ada yang rajin badminton.
Ada yang sepedaan.
Ada yang wisata makanan.
Ada yang masak masakan.
Ada yang sekedar jalan-jalan.
Ada pula duduk manis di pantai memandang matahari terbenam.
Ada yang membina pertemanan-persahabatan.
Ada yang main musik dan bernyanyi-nyanyian.
Ada yang menjelajah hutan serta pedalaman.
Ada yang bermain-main di taman.
Ada yang mengurusi tanaman dan piaraan.
Ada yang berdiskusi-gila obrolan.
Ada yang membaca buku meski cuma sehalaman.
Ada yang habiskan waktu nonton TV layar 50 inci.
Ada yang cuma nongkrong menikmati kopi. 
Ada yang serius ikut kompetisi-kompetisi.
Ada yang iseng bikin-bikin gambar tak karuan.
Ada yang bercengkrama dengan anggota keluarga.
Dan ada yang senang menyendiri di kamar kegalauan
lalu update blog isi suasana hati harian.

Tapi yang terpenting akhirnya ada yang bisa merajut percintaan.
Dan kalau sudah begitu jadi kelupaan bahwa dunia bukan hanya milik berduaan..
(lalu yang lain cuma ngontrak-ngontrakan)



Jumat, 04 Mei 2012

Imajinasi Kota Dalam Taman



Imajinasi Kota Dalam Taman ini sesungguhnya hanya ide sederhana.
Ini muncul ketika saya prihatin melihat dus-dus dan kotak makanan yang mau dibuang.
Rasanya sayang betul.
Lalu tiba-tiba saja muncul imajinasi seolah yang saya pandangi bukanlah dus-dus dan kotak-kotak tak berguna tapi sebuah tumpukkan bangunan.

Saya berimajinasi ada banyak dus-dus dan kotak seperti ini yang masih bisa diberi kesempatan tampil di taman.

Saya berimajinasi mereka adalah sekumpulan bangunan.
Mereka didandani layaknya bangunan-bangunan kita yang gemar bersolek.
Menarik juga jika orang-orang tak dikenal, yang malu-malu tapi gemar juga berdandan-dandan, ikut terlibat mendandani dus-dus dan kotak ini
(lumayanlah dapat kenalan baru).

Pada akhirnya dus-dus dan kotak-kotak ini bisa ikut tampil dalam sebuah panggung taman hijau.
Mereka perkenalkan diri sebagai sebuah kota yang padat.
Kota dalam taman.

Kota yang ditata oleh berbagai tangan, dengan bunga-bunga, dan juga cinta.

Lalu bagaimana jika robot, monster, dan berbagai mainan ikut hadir?
Entahlah.
Tapi yg pasti sebuah cerita dan peristiwa bisa terjadi

Entah siapa penulis cerita dan sutradaranya. Entah apa skenarionya.
Siapa penonton, siapa pemain.
Kelihatannya tak jadi soal.
Yang pasti sesuatu akan terjadi dan kita tinggal mengikuti serta merekam.

Mengikuti imajinasi diiringi musisi-musisi.
Merekam dalam pikiran dan alam bawah sadar kita.

Ini hanya salah satu cara merayakan ruang(waktu) terbuka. Merasakan jadi manusia yg manusiawi di kota.

Kira-kira begitu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








(Sampai berjumpa di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar. Minggu sore, 06 Mei 2012, mulai jam 15.00 WITA. Bawalah dus-dus dan kotak yang tak dipakai lagi di sekitarmu. Bawalah juga mainan kesukaanmu. Juga bawa alat musik. Jangan lupa segenap semangat dan imajinasi.)

Selasa, 24 April 2012

CATATAN GERILYA 12 FEBRUARI 2012 di UBUD



Kami coba tiap gerilya meja kopi menghasilkan satu karya.
Entah tulisan, entah, coretan, entah jepretan, entah kesimpulan, entah gagasan-gagasan.
Kami ingin tiap gerilya meja kopi tak berhenti jadi kesia-siaan.
Kalau begitu, apa beda gerilya ini dan kerumunan-kerumunan lainnya?

Itulah mengapa kami tulis ulang obrolan mengalir tak tentu arah sewaktu gerilya di Ubud. Itu hari Minggu, 12 Februari 2012. Rencana Ubud sendiri adalah rencana spontan. Muncul di Minggu pagi tempat gerilya kami harusnya berlangsung hari itu. Inilah bukti kedinamisan gerak gerilya: serba mengalir tak kaku. Tapi tak ingin sia-sia. Tawaran Adhi ke Ubud untuk bertemu Windy Ariestanti sang penulis tentu kami sambut.

Kami berangkat ke Ubud telat satu jam dari jam makan siang, waktu dimana pertemuan seharusnya berlangsung. Saya (Errik), Shinta, Rizeki, Adhi, kehilangan satu jam sebagai kompensasi keraguan Fajar (ikut atau tidak, dan akhirnya memang Fajar ikut. Mungkin takut rugi kalau tak ketemu Windy).

Berputar-putar tak tentu arah, akhirnya resto Igelanca jadi medan gerilya kami.
Lantai atas yang sepi jadi pilihan kami. Tak ada wi-fi di situ, tapi cukup tersedia colokan. Dan bisa ditebak colokan itu langsung dipakai oleh Fajar yang BB-nya lowbatt.
Windy bergabung ketika makanan kami sudah datang. Obrolan pertama tentu merespon makanan dan minuman. Patut dapat puji keunikan menu yang disajikan. Dan menanyambung soal itu adalah perihal vegetarian. Windy adalah vegetarian tulen. Tapi vegetarian itu sendiri ternyata berkelas-kelas atau beragam jenis. Windy tentu ahli soal itu karena itulah pilihan hidupnya setelah sekian alasan yang tak dijelaskannya. Tapi pecinta lingkungan, ataulah arsitek ekologis, harusnya juga tak memakan daging karena berbagai isu lingkungan di seputar itu. Dan itu ilmiah. Saya pernah dengar itu di sebuah seminar nasional arsitektur ekologis. Kalau saya sendiri tak rasional soal mengapa tak makan hewan berkaki empat. Dan itulah penyebab kenapa Windy cerita panjang lebar soal ini. Saya harus tahu kenapa saya tak makan hewan berkaki empat.

Lalu soal obat. Windy memang lagi sakit. Bu Robin Lim membekali setumpuk obat herbal yang harus diminum. Telatnya Windy berkumpul di Igelanca bukan karena membalas telatnya kami, tapi memang karena soal ambil obat. Terlepas soal obat, orang kalau memiliki semangat dan harapan hidup maka segala penyakit bisa (seperti) tiarap. Mungkin itu alasan meski sakit, Windy masih mau menemui kami. Dia senang dan bersemangat untuk mengobrol dan beternak ide.

Cok Gung yang kami anggap penguasa Ubud (itu karena keluarga besarnya bermarkas di sana) datang sekitar satu setengah jam kemudian. Dia jalan kaki dari markas  keluarga besarnya. Hal itu memicu obrolan kami selanjutnya: soal jarak. Windy bersikukuh bahwa itu jauh. Kami semua berpendapat justru itu dekat. Itulah kemudian yang membingungkan kami: Apa ukuran sesuatu disebut jauh dan dekat? Jadi relatif, jadi subjektif. Windy mungkin malas atau jarang jalan kaki maka jarak Cok Gung bisa disebut jauh. Kami mungkin termasuk gemar jalan kaki (apa iya?) sehingga jarak itu dekat. Ini soal juga mengingat bahwa masyarakat kota kita malas jalan kaki. Dan ini memang menyangkut kualitas kota, utamanya hal fasilitas pejalan kaki. Sudah umum kita ketahui bagaimana keadaan ini.

Disinggunglah Jakarta. Di sana jarak sudah tak tepat diukur dengan fisik, jarak dalam satuan meter-kilometer. Tapi ukurannya adalah waktu tempuh. Entah menit, entah jam. Di Jakarta jarak 100 meter bisa makan waktu 1 jam. Itu juga tergantung kapan kamu menempuh perjalanan itu. Jakarta serba macet, serba tak aman, serba bikin gila. Shinta sebagai mantan anak Jakarta sigap beberkan itu semua. Memang orang-orang Jakarta akhirnya lari ke luar kota. Windy sendiri menyingkir ke Ubud dari Jakarta seolah hendak mencari pengobatan dari kegilaaan kota itu. Tapi dia tak murni menyingkir. Sebagian kakinya masih harus menapak Jakarta. Kota itu masih menggenggam pekerjaannya. Jakarta memang rakus uang. Ada 60% berputar di sana. Kalau sudah begitu pantaslah pemuda-pemudi nusantara lari ke sana. Moga-moga saja mereka tak jadi gila.

Windy, Rizeki, Shinta terus mengobrol ngalor ngidul entah apa. Sementara Fajar, Cok Gung, dan Adhi sibuk bahas kegalauan dan wanita. Saya sibuk menggores-gores dengan cat air portabel. Teman Windy yang datang belakangan turut mencoba dan akhirnya juga Windy sendiri mencoba. Memang benda satu ini menarik. Seandainya saya sales tentu saya musti dapat honor karena berhasil menggaet dua pelanggan baru. Tapi soal sales dan bisnis, itu bidang Adhi. Saya Cuma senang corat-coret.

Kami lanjutkan obrolan di markas keluarga Cok Gung. Di situ memang tepat karena ada meja, ada kopi, ada makanan, dan ada kerindangan alam yang nyaman. Saya, Adhi, Shinta, Rizeki langsung bahas Fajar sang galau. Ya karena dia tak lagi bergabung karena musti jemput Darman (apa Darman terjemput?). Memang sudah sifat gerilya kami untuk bahas orang-orang yang tak sedang bergabung dalam meja kopi kami. Bebaslah kami bahas seluk beluk kegalauan. Galau. Entah apa makna tepatnya, entah pula kapan kata ini pertama muncul. Saya sendiri tahunya ’gelisah’ dan ’ragu’, dua kata yang identik dengan pemikir dan juga melankolis pengejar kesempurnaan. Pertanyaannya kemudian apakah galau sama dengan gelisah dan ragu? Entahlah. Yang pasti Fajar memang senantiasa gelisah dan selalu ragu ambil keputusan. Mungkin mirip Presiden kita saat ini.

Untung zaman ini bagi orang-orang galau adalah mereka punya akses pelampiasan. Orang galau senang memamerkan kegalauannya. Lihatlah media sosial. Ramai betul dengan status-status melankolik. Semua orang jadi bisa berpuisi, marah-marah, atau sekedar narsis-pamer diri seolah superstar sinetron galau. Tapi jadi tak mutu isi media sosial kita. Belum lagi media massa ikut-ikut goblok-goblokan. Sialnya, seperti ujaran Rizeki dan Adhi, koran kriminil tak mutu atau media berita online digital macam ’Lampu Merah’ ramai peminat. Lucu memang kalau melihat sebuah koran di mana isi berita langsung diketahui dari judul. Mungkin itu sebab ramai peminat. Tak perlu repot-repot menjelajahi isi artikel. Cukup baca judul yang panjang itu dan langsung pahamlah apa yang telah terjadi.

Itulah masyarakat kita saat ini. Gemar yang dangkal-dangkal (maap, bukan berarti kami penuh kedalaman), juga yang mistis-mistis. Orang-orang lebih senang bicara ’metafisika’ mistis daripada fisika realistis (meta: dibalik, melampaui). Kami di meja kopi ini juga tak suka fisika yang rumit itu tapi juga tak perlu hanyut dalam ’metafisika’ (kecuali ketika ingin bodohi orang). Mistis bertaut erat memang dengan mitos. Dalam mitos, kebenaran seperti sudah terpampang jelas tanpa perlu lagi diteropong dengan mikroskop. Kita tinggal ikut dan angguk-angguk bahwa itulah semestinya semesta. Tak perlu pikir panjang-panjang dan dalam-dalam. Tak perlu bedah dan ricek objek. Dan jelas tak perlu fisika yang berumus-rumus rumit itu.

Kemudian pertanyaan kami, apa ini ada hubungannya dengan semangat beragama di Indonesia? Hampir seluruh penduduk negeri ini punya agama. Itu minimal tertera di KTP. Tapi justru semangatnya seolah menggerus pluralitas negeri ini. Rizeki bicara banyak soal salah kaprah terkait agama Islam. Soal ritual, tradisi, pemahaman, banyak dimaknai hanya sebagai yang tampak (entah kenapa kali ini masyarakat kita seperti suka yang fisik-fisika). Soal bentuk masjid misalnya yang seolah sudah sakral musti berkubah, juga soal ketaatan ibadah di tempat ibadah. Ukurannya serba yang tampak-tampak.

Tapi itulah soal cara memandang. Dan itu mempengaruhi cara berpikir (untung peserta gerilya kali ini cara memandangnya amat dinamis!). Seperti soal spirit, roh. Orang bisa langsung berangggapan soal hantu dan hal-hal mistis. Tapi kami melihat sebagai semangat, jiwa, ’roh’ yang menggerakkan fisik kami. Kami melihatnya lebih abstrak. Roh itu seperti sebuah tujuan, harapan, cita-cita. Jadi kalau misal Indonesia telah kehilangan roh Pancasila. Itu bukan berarti ada hantu macam Casper bernama Pancasila yang tiba-tiba lenyap tak lagi gentayangan di bumi Indonesia. Tapi adalah Indoesia telah kehilangan semangat dari nilai-nilai yang dikandung dalam Pancasila. Bukankah Pancasila itu jiwa utama kenapa Bangsa ini ada? Begitulah kira-kira pandangan politis kami.

Rizeki menyinggung lagi soal adapt gara-gara sajian makanan tradisional di meja kami. Seringkali adat diperlakukan sekadar ritual tanpa dicari lagi makna dibalik itu. Kalau saya bilang bahwa adat, tradisi, dan kebudayaan oleh kita saat ini umumnya masih diperlakukan layaknya hal-hal sakral. Tak boleh ditafsir lain. Kalau meminjam istilah pengamat politi Eep Saefuloh fatah, generasi kita ini cenderung hanya sekadar jadi ‘tukang lap’ kebudayaan. Jadi wajar tak berkembang. Tak berkembang maka jadi tak kontekstual-relevan dengan zaman. Padahal zaman selalu berubah, makin lama makin cepat. Maka wajar generasi zaman ini asing dengan identitas, tradisi, dan budaya nasionalnya sendiri.

Cara-cara mengembangkan kebudayaan memang perlu memanfaatkan semangat zaman, khususnya kemajuan teknologi. Kembali kami mengingat soal mental malas menyelidik, mencaritahu, mendalami. Sudah jadi pmandangan umum di kelas-kelas sekolah negeri ini murid-murid malas (apa malu?) bertanya tapi senang betul berkerumun bikin keramaian dan berkomentar-komentar di luar kelas (atau di dalam kalau guru tak ada). Kritik jadi tak lazim. Semua juga senang sopan-sopan di depan, tapi menghina-hina di belakang (kami juga begitu). Maka ketika Rizeki mengungkap kekurang ajaran tapi sopan dari Sudjiwo Tedjo di berbagai forum dan juga Twitter, maka kami pikir itu cara jitu merespon kemandekkan budaya yang lagi senang bersopan-sopan di depan, menghina-hina di belakang. Lebih baik blak-blakan di depan tapi jugalah tetap elegan. Twitter, juga Facebook dan media sosial lainnya, bisa jadi ujung tombak terciptanya revolusi sosial-budaya. Seperti kata Rizeki, Twitter memungkinkan seorang Sudjiwo Tedjo yang edan membentuk kerajaan Jancukers. Stand up comedy pun sarana tepat mengkritisi berbagai kemandekan proses menjadi manusia. Lawakan model ini memang lawakan berbasis pengamatan, wawasan, dan kecerdasan mengolah isu yang. Dan itulah otokritik yang baik. Itu karena stand up comedy umumnya tampil dengan kritik terhadap diri sendiri. Entah fisik, ras, suku, agama, atau apapun tanpa perlu berkerut bermuka masam. Peran media massa dan media sosial makin menjamurkan stand up comedy ke masyarakat luas dari yang sebelumnya hanya di lingkup cafe.

Itulah obrolan ngalor ngidul sebelum akhirnya Adhi sang bisnismen menutup dengan sesuatu yang lebih konkret yaitu mind map. Penjelasan panjang lebar gaya sales dari Adhi tampaknya berhasil menarik perhatian Cok Gung, Rizeki, dan Shinta. Nampaknya manajemen berpikir yang rapi, menyusun langkah konkret, praktik mind map, dan tawaran software pendukung akan bergayung sambut di gerilya meja kopi selanjutnya. Tapi seperti pernyataan penutup dari Shinta:
”Kami orang-orang yang berpikir random”.

Maka tak terjadilah kelanjutan obrolan penutup itu selain di tulisan ini.

- Errik Irwan -

Sabtu, 21 April 2012

Archigeddon



Saya teringat sebuah kejadian baru-baru ini yang menarik permenungan.
Ini di sebuah kegiatan arsitektur-sosial-kemanusiaan di pulau seberang.
Pemuda-pemudi berbagai kota asyik rehat siang dan saling bercengkrama.
Tiba-tiba saya dapati teman saya sibuk mengutak-atik CAD di laptopnya.
Dia sembunyi-sembunyi dengan kesibukan yang tak lazim itu.
Tapi akhirnya teman saya itu 'bernyanyi' juga.
Tentu setelah didesak selidik penuh ingin tahu teman-teman lainnya.
Ternyata dia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.

Saya dan teman-teman lain tertawa melihat kenyataan itu.
Mengerjakan kerjaan kantor saat yang lain bersantai-santai.
kayak tak cukup saja waktu melimpah di kantor itu.

Tapi juga memang harus kasihan.
Tadi malam dia lagi istirahat damai.
Itu setelah seharian banting tulang tangani kegiatan dan peserta.
Tiba-tiba bosnya menelpon menanyakan denah rumah klien.
Minta dikirim pula keesokan harinya.
Coba, kalau sudah begini siapa masih bisa santai-damai menikmati sisa malam?

Kami memang patut berhenti tertawa.

Tak tega lihat kenyataan sisi lain itu.

Pikir-pikir, apa bosnya tak tahu untuk apa teman saya ini membolos hari kerja?
Pikir-pikir tentulah si bos tahu. 
Teman saya pasti minta izin secara jujur. 
Kalau tidak dia tak akan sampai di Borobudur.
Dia anak alim.
Bukan tipe suka main-main, senang-senang, hura-hura, gemar hedon-hedonan.

Dia bukan seperti kami, juga temannya yang lain.
Kami masih bisa keluyuran karena cuma peserta.
Teman saya yang alim ini tak bisa meninggalkan posko tugasnya.
Dia relawan-panitia garda pertama.
Sudah siaga satu sejak peserta masih asyik di kota masing-masing.

Banyak kiranya yang seperti itu. 
Teman-teman semasa mahasiswa yang aktip-aktip agresip-agresip.
Penuh ide-ide besar, semangat banting tulang, ketrampilan gila-gilaan.
Tapi sayang tampaknya tak punya banyak pilihan. 
Musti kontinyu menyambung hidup.
Mentok di meja kantor.
Pakai dasi, pasrah revisi, siap nguli.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya bayangkan jika merekalah orang-orang terbaik ibu pertiwi.
Terpanggil untuk membantu menyelamatkan bumi.
Lagi siap-siap menjalankan misi.
Lalu tiba-tiba telpon menari.

"Hai ini ada revisi,
revisi, revisi, dan revisi!"

Itulah arsitektur dalam industri.
Serba sibuk, serba sigap.
Bisa-bisa bikin bumi kiamat.

(Atau hidup pemuda-pemudi ini yang kiamat?)


Kamis, 02 Februari 2012

Happy Holy-Day

 ...

Happy Galungan..
Happy Kuningan..
Happy Holy-Day...

Have a good-great day....





(Front Line, BDS Bali Camp, January 31th - February 1st-2nd 2012)

................



Kamis, 05 Januari 2012

BDS Bali - Tutup Tahun - Buka Tahun



BDS Bali, apel siaga..


I
I


Tutup Tahun






Dua Minggu berikutnya.... 

Jumat, 09 Desember 2011

Apakah Anda Bangga Bangsa Ini Menempati Urutan Atas Pengguna Jasa Komunikasi Maya?


Kliping
Jumat 10:00 pagi, 09 Desember 2011. Baru pulang setelah deadline dan sempat beli koran Kompas. Lihat TV dan ada JK di KompasTV. JK untuk 'Jalan Keluar' sekaligus 'Jusuf Kalla', si pemandu acara. Mereka bahas soal potensi pertanian. Isinya memilukan. Impor, impor, impor. Yang amat memalukan adalah kita impor beras, ikan, garam, dan buah. Memalukannya lagi bahwa kita impor pertanian-pertanian dari India dan Pakistan yang kering dibanding kita yang subur. Banyak sentilan dari JK yang khas itu. JK bilang kantor-kantor kita lebih besar dari kantor negara-negara tetangga. Lalu insinyur-insinyur pertanian kita lebih suka berkantor daripada bersawah. Jadinya kita serba impor. Semua tertawa. Benar itu (dan saya berpikir pasti bangga arsitek-arsitek arsitektur perkantoran kita).

Acara selesai lanjut ke koran di tempat tidur. Banyak sekali artikel bagus dari koran yang selalu tebal di hari Jumat. Lagi-lagi bertemu hal senada dengan bahasan berbeda. Ini tentang kebodohan. Juga tentang makna sebuah kebanggaan. Tema ini terus berputar-putar dalam tidur hingga ke meja studio siang harinya. Kita makin lama makin bodoh. Mungkin setidaknya makin dangkal. Dan orang dangkal senang membanggakan diri. Narsis? Siang itu saya kliping saja. Itulah kerjaan sisa siang di studio. Buat jaga-jaga perlu juga kliping digital. Banyak betul. Tapi demi tidak bodoh. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


‎"Kalau perlu, barusan buang angin pun diberitahukan ke seluruh dunia. Untuk bisa selalu update, orang terus-menerus memelototi Blackberry.
Apanya yang harus dibanggakan dengan itu semua?"


- Bre Redana -


Kompas, Jumat, 09 Desember 2011
------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------


HIPERKONSUMERISME, HIPERTEKS, HIPERMEDIA

Oleh: Bre Redana

Apakah Anda bangga bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta. 

Kamis, 08 Desember 2011

(Konflik) CAD Interior Menjenuhkan Di Akhir Tahun


Bagaimana Israel tahu kapan negara-negara tetangganya yang besar-besar itu akan menyerang? Gampang. Israel tinggal mengamati hiruk pikuk di rumah sakit-rumah sakit, toko-toko obat, gudang-gudang makanan, dan dapur-dapur umum negara-negara itu. Mossad (intelijen luar negeri Israel) tak perlu pakai teknologi canggih dan bermahal-mahal. Cukup laporan pandangan mata sederhana dari para pekerja biasa di tempat-tempat itu.

Kira-kira begitu juga yang terjadi di kantor-kantor di negeri ini. Termasuk juga di markas-markas dimana prajurit bersarang. Gampang jika awam ingin tahu kapan pertempuran-gila terakhir berlangsung atau bagaimana suasana batin-tugas di situ. Cukup amati hiruk pikuk benda-benda khas penghuninya. Apa mereka ada pada tempatnya atau tidak. Sebagaimana situasi serba darurat maka segala posisi umumnya serba kacau tak pada tempatnya. Gambaran sama untuk kota-kota kita sejauh ini. Serba darurat. Serba siap perang. Semua kacau. Benda-benda tidak pada tempatnya. Semua itu yang seperti kita tahu.

Cobalah berkunjung ke Markas BDS Bali penghujung akhir tahun ini. Mungkin banyak temuan menarik yang bisa menggambarkan dengan jelas suasana serba darurat siaga perang khas penghujung akhir tahun. Foto hal-hal sederhana berikut, yang diambil minggu pertama Desember 2011, mungkin cukup mewakili tanpa perlu tahu jadwal tugas yang mendekati kegilaan itu. Bahkan mungkin sudah melampaui. 

Sisa makanan

Kamis, 01 Desember 2011

Bapak Tua Kurus


Bapak Tua Kurus, Jalan Hayam Wuruk Denpasar, 29 November 2011.
Barusan saja, selagi sendirian menunggu teman di teras kafe, 
lewat seorang bapak tua kurus di tengah hiruk pikuk jalanan Hayam Wuruk Denpasar.
Bawa karung, memikul cangkul, tanpa sandal, tampak letih dan lusuh. 
Kelihatannya dia sudah bekerja keras dan berjalan kaki jauh hari ini.

Bapak tua kurus itu berhenti, menurunkan cangkul, menarik napas sejenak. 
Coba saya tawari makan dan minum. 
Tapi bapak tua kurus itu menolak. 
Dia lebih pilih lanjutkan jalan. 
Mungkin merasa itu bukan haknya. 
Seandainya dia mengemis, pasti banyak yang mau memberi. 
Tapi dia malah menolak pemberian. 
Ini aneh untuk zaman ini.

Iya juga. 
Mungkin bapak tua kurus itu kira ada alien ujug-ujug muncul. 
Alien yang coba tawari suatu eksperimen luar angkasa. 
Sesosok berpakaian aneh untuk zaman ini.
Tapi memang bolehlah salut bahwa bapak tua itu mau bekerja keras.
Mengambil hasil yang memang haknya lalu pulang ketika waktunya.  
Terus berjalan kaki tanpa istirahat untuk perjalanan yang jauh. 
Pikirannya fokus bahwa masih ada keluarga menanti di rumah.

Seperti pula anak-anak muda yang bekerja keras seharian.
Mereka buru-buru pulang dengan mobil atau motor. 
Mereka ingin berkumpul dengan keluarga atau pacarnya.
Pantaslah jika semua berebut adu cepat di jalanan kota.

-------------------------------------------------------------

Masih sendirian menunggu teman di teras kafe.

Memandangi jalanan yang makin hiruk pikuk.
Sambil sesekali melihat jam, berpikir-pikir sedang dimana teman-teman.
Seharusnya sejam lalu sudah di ruang acara. 
Menikmati diskusi-diskusi, berkenalan dengan Taman 65.
Ikut berpesta mengapresiasi buku baru.
Tapi dimana teman-teman karena kalau sendirian tak tahu jalan ke sana.

Seandainya saya jadi bapak tua kurus itu mungkin tak perlu gelisah soal buku-buku.
Bapak tua kurus kelihatannya tidak seberuntung itu.
Tidak seperti kita-kita yang punya kesempatan merayakan buku-buku.

GERILYA

Ini materi untuk Bali Creative Festival 2011.

Senin, 14 November 2011

Bermain (Arsitektur) ke Sanggar Anak Tangguh



Arsitek selalu dihujani sekian deadline dan tuntutan gambar. Sibuk tak kenal waktu. Tapi 30 Oktober 2011 Minggu pagi itu berbeda. Tak ada dedline, tak ada tuntutan gambar. Baru saja semua selesai pada malam beberapa jam sebelumnya.

Pagi itu pukul 09.30 Rizeki Raharja, Cok Gung Pamanayogi, dan Hadi Pramana sudah berkumpul di markas Bensley Design Studios Bali di Sanur. Sementara saya, tuan rumah, baru bangun dan baru menyusul 30 menit kemudian setelah ngebut bersepeda  di tengah cuaca yang suram-mendung. Cok Gung sudah siap dengan materi dan peralatannya. Hadi Pramana siap dengan sapaan-sapaan kanak-kanaknya. Rizeki selalu siap dengan senyuman dan sekian cerita entah kemana-mana. Dan saya masih harus menyadarkan diri bahwa kami akan mengunjungi Sanggar Anak Tangguh dan bermain arsitektur bersama anak-anak sanggar itu. Mas Adi, begitu kami memanggil Komang Adiartha, sudah lama dan berulang kali mengundang kami untuk bermain bersama anak-anak sekolah alternatif asuhannya. Bermain tentang apa itu arsitektur.

Selasa, 25 Oktober 2011

Gempa 6,8 SR dan Markas BDS


Gempa 6,8 SR Bali 13 Oktober 2011 bikin hati heboh.
Makin heboh lagi dengan bagaimana orang-orang Jakarta memberitakannya.
Saya sendiri tahu soal gempa heboh 6.8 SR ini dari televisi-televisi yang berpusat di Jakarta semua.
Maklum, saat itu masih di tempat tidur di kost dan masih berpikir cuma kepala sendiri yang goyang-goyang pasca heboh deadline pagi dinihari sebelumnya.
Tapi ternyata, sebagaimana orang-orang Jakarta menceritakannya, memang baru terjadi gempa yang cukup hebat, dan heboh!
Tingkat kehebohannya bisa diukur dari berapa lama 'breaking news' mengudara dan berapa banyak materi berita diulang-ulang (ini tentu untuk menguatkan betapa patut hebohnya suasana saat itu).
Bisa pula diukur dari seberapa banyak deringan panggilan menghampiri perangkat-perangkat canggih yang senantiasa mendampingi masing-masing manusia.
Kalau gempa beginian terjadi di rimba raya Papua mungkin lain cerita dari si Jakarta.


Tapi bayangan saya adalah bagaimana teman-teman di Markas BDS Bali.
Mereka prajurit-prajurit yang sudah terlatih dengan segala heboh-heboh beginian.
Gonjang-ganjing 6,8 SR mungkin tidak ada apa-apanya dibanding gonjang-ganjing revisi-revisi tugas yang tak pernah bisa diprediksi sebagaimana gempa yang tak bisa diramal, secanggih apapun perangkat teknologi inovasi Steve Job.
Saya yakin saat gempa semua kegiatan garis depan tetap berjalan.
Tak ada deadline ditunda. 
Tak ada lama-lama penyelamatan diri.
Bahkan makin banyak inspirasi-inspirasi baru.
Makin banyak revisi-revisi baru (pula).


(karena tak hadir saat gempa 6,8 SR dan tak ada jejak dokumentasi maka mungkin kira-kira situasi markas saat peristiwa seperti gambar berikut ini)




Mungkin perlu kita menyimak kata-kata bijak berikut (entah nyambung atau tidak, tapi kata-kata ini memang bijak!):


"Seorang arsitek yang baik tidak boleh ribut dan kacau dalam jiwanya. Ia harus mau meditasi, menghening agar refleksi ilham yang benar dapat tercermin hening."

- YB Mangunwijaya -


Meditasi, menghening, bahkan dalam kehebohan gempa.
........................................................

Sabtu, 22 Oktober 2011

Suatu Ketika Berjalan Kaki Ke Markas


Ini suatu hari yang agak berbeda di Sanur. Sabtu, 08 Oktober 2011.
Biasanya berangkat ke markas BDS (Bensley Design Studios) Bali menggunakan sepeda (markas? mungkin awam lebih senang menyebut kantor. Kalau yang ngakunya arsitek menyebut sebagai studio)  
Tapi kali ini terpaksa ke markas tanpa sepeda karena si sepeda musti turun mesin di depot perbaikan (sebagai dampak eksploitasi berlebih tanpa memeliharanya).

Dalam situasi tanpa sepeda begini maka keputusan paling logis adalah ikut numpang kendaraan teman untuk ke markas. Tapi ke markas di hari Sabtu untuk urusan rutin adalah menjemukan (ini harusnya hari bersenang-senang dengan waktu luang!). Maka keputusan logis dari masukkan variabel data beginian adalah: Jalan Kaki!
Makin lambat sampai tujuan makin baik.

Terasa sekali perbedaan perjalanan antara naik mobil, motor, sepeda, dan jalan kaki. Selain memang soal waktu tempuh dan kalori yang digunakan adalah soal bagaimana melihat sesuatu diperjalanan. Dengan berjalan kaki segala sesuatu jadi terlihat lebih akrab. Seolah dunia jadi berbeda warnanya. Dan seandainya teman-teman waktu itu ikut berjalan bersama maka mungkin juga akan melihat warna-warna berbeda itu. Dan kalaupun tidak, kiranya foto-foto ini bisa menggambarkan apa yang saya lihat selama perjalanan.

Tidak seluruh perjalanan. 
Hanya setengah terakhir saja. 
Ini Sabtu, 08 Oktober 2011.

Menuju jalan Tunjungsari dari jalan Batursari dengan penanda arah Cafe Tunjung Biru (01).

Jumat, 21 Oktober 2011

Ride on Time [Good Luck END]


Good Luck, salah satu serial terbaik Jepang. 
Ia menggambarkan bagaimana etos kerja Jepang pada dunia yang sarat dengan pelayanan, teknologi, dan keselamatan tinggi tanpa kehilangan unsur drama manusia. 
Bangsa kita perlu buat serial beginian. 
Sangat strategis. 
Garuda bisa kerjasama dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ristek, serta didukung Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN). Juga tentu pemda-pemda yang akan terkait.



(coba nikmati lagu indah Ride On Time karya musisi ternama Jepang, Tatsuro Yamashita, lengkap dengan klip yang menimbulkan rasa kagum akan penerbangannya)

Selasa, 18 Oktober 2011

Soal Bio Gas




Ada sebuah bangsa yang menggunakan kotoran manusia untuk memupuki kebunnya. 
Kotoran manusia ini bahkan diperjualbelikan di pasar. 
Ini tradisi dan benar-benar dianggap barang berharga.
Memang terasa menjijikkan dan terbelakang bangsa model beginian (apalagi ditambah kebiasaan jarang mandi) bagi kita.
Itulah Korea tahun 50-an. Ya Utara, ya Selatan.

Itulah hal menarik sekali yang saya baca dari buku Catatan Perang Korea karya Mochtar Lubis. Memang tepatlah dia satu-satunya jurnalis republik ini yang diundang ke sana tahun itu.

Dan mari benar-benar kembali obrolkan hal-hal sekarang.
Ini tentang Obrolan Rabu Malam (OBRAL) 28 September 2011.
Ini tentang "Green! Lifestyle atau Way of Life?"