Tampilkan postingan dengan label Kota-Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota-Ku. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 April 2015
Bangunan Kokoh
Orang-orang Jogja menyenangkan (dan selalu saja menenangkan juga). Hanya saya ragu apakah mereka bisa terus berdiri kokoh menopang nilai-nilai Jogja yang Berhati bikin Nyaman itu. Saya takutnya bangunan-bangunan raksasa baru yang sekarang banyak muncul berdiri di sana jauh lebih kokoh karena ditopang kapital besar, kekuasaan yang selingkuh, dan tentu saja sarjana-sarjana teknik kita yang sudah cukup giat belajar dan sekarang mengharap kerja imbalan besar.
Saya takut Jogja kalah, terpaksa mengikut Jakarta. Kalau nanti begitu, Jogja sama memprihatinkannya dengan Nepal yang baru kena bencana gempa baru-baru ini. Hancur. Hanya saja karena semua tertutupi bangunan-bangunan kokoh, fungsional, dan indah, orang-orang (yang lebih suka melihat permukaan dari balik jendela mobil atau layar-layar digital) berpikir tidak ada masalah. Sama halnya dengan gempa yang disalahkan tiap ada korban jiwa (ya, bukannya selalu ditulis 'korban gempa', bukan 'korban bangunan ringkih yang kebetulan roboh digoyang gempa'?).
Saya bikin komik ini sebagai respon atas diskusi Heteropia dan Ekspresi Artistik soal seni dan penataan arsitektur ruang kota yang manusiawi di PKKH UGM tanggal 23 April 2015 kemarin (ulasan Greg Wuryanto sangat menarik) dan atas obrolan santai sore-malam hari di rumah Yoshi dan Rere. Ini juga respon saya atas pengalaman saya keluyuran siang-siang di kota Yogyakarta yang bikin saya 'berhati gak nyaman'.
*Terima kasih untuk Yoshi dan Rere atas kesempatan ngobrol dan makan malam di rumah baru kalian (yang masih dalam proses penyeselesaian tapi sudah cukup menyenangkan :D ). Juga Gayuh dan Thole yang turut meramaikan obrolan bersama Ai Fukuda, kawan baru dari Jepang, yang kita boyong ke rumah Yoshi dan Rere dengan dikit mengakali aturan Pak Polisi yang selalu menuntut setiap orang bersepeda motor harus memakai helm (pengecualian dirinya :D). Sayang Teddy tidak mengikuti sedari awal.
#gumpnhell #jogjaoradidol #jogjaasat
Rabu, 07 Januari 2015
Selasa, 14 Januari 2014
Senin, 18 November 2013
Sabtu, 16 November 2013
Senin, 18 Februari 2013
Catatan (Lain) dari Diskusi 'MENGANGKAT NILAI KOTA LAMA MELALUI SKETSA'
Pemandangan yang saya lihat sore ini tak biasa: orang buang air besar di selokan tepi jalan besar, rombongan pemulung berkarung besar, gelandangan-gelandangan tua, orang mengencingi tembok, gubuk kumuh, jalan becek, sampah-sampah, dinding kuno-eksotis-lebih karena tak terawat, lalu anak-anak muda sibuk jepret sana-jepret sini tapi tetap fokus jepretnya ya si anak-anak muda ini (inflasi kamera bikin siapa saja jadi fotografer dan model dalam sekejap) dsb-dsb.
Bukan Main!
gerundelan tentang
arsitektur-Ku,
Catatan Gerilya Meja Kopi,
Kota-Ku
Tweet
Kamis, 29 November 2012
Kamis, 22 November 2012
Urban Sketchers Bali dan Persiapan Aksi Perdana di Lapangan
Sabtu, 24 November 2012 kawan-kawan 'Urban Sketchers Bali' untuk pertama kali akan coba terjun langsung di 'lapangan'. Melalui goresan-goresan tangan kawan-kawan coba merekam objek ataupun kejadian di lapangan Niti Mandala Renon dan menjadi karya 'dokumentasi' yang diselesaikan di tempat (sesuai namanya, urban sketchers, bukan home sketchers). Untuk selanjutnya, seminggu sekali, kawan-kawan ini akan coba terjun di berbagai tempat lain di Bali mungkin hingga ke pojok-pojok kolong yang belum dilihat mata dunia.
Sabtu besok kawan-kawan lain jika ingin 'nimbrung' atau sekedar memuaskan rasa ingin tahu bisa datang mulai jam 9 pagi. Bagi yang ingin serius terlibat cukup bawa alat gambar, kertas/buku sketsa, dan sejumlah semangat. Silakan juga persiapan-persiapan lain seperlunya (ingat, seperlunya saja. Ini bukan perang-perangan). Silakan kawan-kawan.
Sabtu besok kawan-kawan lain jika ingin 'nimbrung' atau sekedar memuaskan rasa ingin tahu bisa datang mulai jam 9 pagi. Bagi yang ingin serius terlibat cukup bawa alat gambar, kertas/buku sketsa, dan sejumlah semangat. Silakan juga persiapan-persiapan lain seperlunya (ingat, seperlunya saja. Ini bukan perang-perangan). Silakan kawan-kawan.
Jumat, 05 Oktober 2012
Kamis, 20 September 2012
Kata-Kata Sukarno Saat Lantik Ali Sadikin Sebagai Gubernur
Apa sebab saya memilih seorang gubernur dari Angkatan Laut? Angkatan Laut KKO? Oleh karena Jakarta ini adalah kota pelabuhan. Sebaliknya saya memilih Gubernur Jakarta dari satu orang yang mengetahui urusan laut dan urusan pelabuhan.
Di Jakarta berkumpul semua diplomaten. Saya minta supaya Gubernur bisa menghadapi bahkan meladeni diplomaten corps di sini. Saya cari-cari orang dan saya pikir yang terbaik adalah Ali Sadikin. Apalagi Ali Sadikin mempunyai Istri yang rupanya bisa menghadapi diplomatic corps. Karena itu, salah satu sebab pilihanku jatuh kepada Pelaut Ali Sadikin. Engkau harus bisa meladeni diplomatic corps dengan bantuan Istrimu yang aku yakin pandai juga meladeni diplomatic corps.
Ada, ada yang ditakuti dari Ali Sadikin itu. Apa? Ali Sadikin itu orang yang keras. Dalam bahasa Belanda ada yang menyebutnya, een koppige vent, koppig. Saya kira dalam hal mengurus Kota Jakarta Raya ini baik juga een beetje koppigheid (sedikit keras kepala). Apalagi ndoro dan ndoro den ayu sudah tahu, tidak boleh membuang sampah semau-maunya di pinggir jalan, tapi masih banyak toh yang membuang sampah di pinggir jalan. Nah, itu perlu dihadapi oleh orang yang sedikit keras, yang sedikit koppig. Saya harap, engkau akan bisa menanggulangi segala problemen (masalah) dari kota besar Jakarta Raya ini.
Sekarang, ada saja orang-orang yang tidak mau mengerti, bahwa kota besar Jakarta ini harus mempunyai physical face yang waardig (wajah penampilan yang berharga) bagi bangsa kita yang 105 juta besarnya ini. Mereka tidak mau mengerti mengapa jalan Thamrin itu harus begitu dan mengapa jalan Sudirman akan diubah bentuknya. Tidak mau mengerti akan keberadaan masjid Istiqlal yang hebat itu, serta tidak mau mengerti mengapa Lapangan Merdeka dijadikan satu lapangan yang hebat, yang terbesar di seluruh dunia dengan di tengah-tengahnya diadakan Tugu Nasional. Jatiluhur itu apa? Karangkates itu apa? Dan waduk Cacaban itu apa?
De mens leeft niet van brood allen (manusia tidak cuma hidup dari roti). Een natie leeft niet van brood allen (satu bangsa tidak cuma hidup dari roti).
Ingatlah. Jakarta adalah ibukota kita. Ibukota Republik Indonesia. Buatlah Jakarta ini menjadi kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahkan menjadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini.
Makan itu, Ali Sadikin! Hari ini engkau bisa kenyang, besok engkau bisa lapar. Tetapi ada hal-hal lain yang akan kau bawa ke alam baka, yaitu ingatlah, national pride, barang-barang yang abadi.
Saya menghendaki juga, agar bintang-bintang di langit seribu tahun lagi, sepuluh ribu tahun lagi masih menyaksikan, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Cita-citaku mengenai kota Jakarta ini akan saya supplant kepadamu, saya iris dan saya masukkan di dalam kalbumu, Ali Sadikin. Bukan pekerjaan yang mudah untuk memenuhi cita-cita yang besar. Tapi Insya Allah, doe je best (berusahalah dengan sebaik-baiknya), agar orang-orang masih mengingatmu sekian tahun lagi karena dalam engkau sungguh-sungguh dalam memegang jabatan ini. Dit heeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin. Inilah yang dilakukan oleh Ali Sadikin.
Bismillah, mulailah engkau dengan pekerjaanmu.
(dikutip dan disusun ulang dari buku "Ali Sadikin; Membenahi Jakarta Menjadi Kota Yang Manusiawi" yg disusun Ramadhan K.H, bab.1)
Kamis, 19 Juli 2012
Menuju Aksi Perdana Sanur Community Market
Pasar organik 'Sanur Community Market'.
Dimotori teman-teman Healthy Food Healthy Living
bekerja sama dengan Satvika Bhoga dan Akarumput.
Pasar organik ajang di mana komunitas-komunitas pangan dan lingkungan
serta petani-petani organik lokal menjajakan produk, program,
dan kisah di balik itu semua kepada masyarakat luas.
Penuh harap dari kegiatan ini terjalin sinergi antar komunitas kreatif peduli lingkungan.
Penuh harap pula ada keberlanjutan aksi-aksi dan agenda yang sudah berlangsung.
Dan jelas penuh harap ada apresiasi dan peningkatan partisipasi dari masyarakat awam dan sekitar.
Apa yang dilakukan teman-teman ini hanya langkah kecil
dalam gegap gempita gerak Bali
tetapi tetap bermakna besar bagi keberlanjutan kehidupan Bali yang lebih sehat.
Langkah kecil yang dimulai dari pojokan Sanur.
Juga pojok-pojok lain Nusantara.
Salut untuk langkah perdana teman-teman 'Sanur Community Market'!
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
I
I
I
I
I
gerundelan tentang
Catatan Gerilya Meja Kopi,
Gump n Hell,
Kota-Ku,
Sana-Seni
Tweet
Jumat, 27 April 2012
Niti Mandala Road
Kami punya ide di suatu hari.
Ide itu untuk Minggu 29 April 2012.
Kami rencanakan mulai jam 15.00.
Ini bertempat di sekitaran Puputan Niti Mandala Renon.
Kami ingin merayakan ruang(waktu) terbuka.
Kami rencanakan mulai jam 15.00.
Ini bertempat di sekitaran Puputan Niti Mandala Renon.
Kami ingin merayakan ruang(waktu) terbuka.
Merasakan jadi manusia yang manusiawi di kota.
Kami akan joging dan jalan santai.
Tentu ada yang akan berfoto ria.
Beberapa bermain sketsa.
Tentu ada yang akan berfoto ria.
Beberapa bermain sketsa.
Boleh digenapi dengan cat air.
Kami berkarya merespon suasana kota.
Moga-moga bisa jadi peta.
Bila capek maka kami akan berhenti.
Bila capek maka kami akan berhenti.
Minum ramai-ramai sambil ketawa-ketiwi.
Saat ngobrol ditemani cemilan bikinan sendiri.
Ada buah dan rujak yang bebas diambili.
Mungkin ada yang akan berpuisi-puisi.
Boleh sambil ditemani permainan musisi.
Lalu akan ada rekan yang rekam sana-sini.
Ini bekalnya ke Jepang buat promosi.
Moga-moga ide kami ini jalan.
Tak perlu bangun pagi untuk kegiatan ini.Silakan saja bergabung ikut meramaikan.
Sampai bertemu di Puputan Niti Mandala Renon.
Sampai bertemu Minggu 29 April 2012.
Jam 15.00 WITA.
gerundelan tentang
arsitektur-Ku,
Catatan Gerilya Meja Kopi,
Gump n Hell,
Indonesia-KU,
Kota-Ku,
Sana-Seni
Tweet
Minggu, 25 Desember 2011
Kamis, 01 Desember 2011
Bapak Tua Kurus
| Bapak Tua Kurus, Jalan Hayam Wuruk Denpasar, 29 November 2011. |
lewat seorang bapak tua kurus di tengah hiruk pikuk jalanan Hayam Wuruk Denpasar.
Bawa karung, memikul cangkul, tanpa sandal, tampak letih dan lusuh.
Kelihatannya dia sudah bekerja keras dan berjalan kaki jauh hari ini.
Bapak tua kurus itu berhenti, menurunkan cangkul, menarik napas sejenak.
Coba saya tawari makan dan minum.
Tapi bapak tua kurus itu menolak.
Dia lebih pilih lanjutkan jalan.
Mungkin merasa itu bukan haknya.
Seandainya dia mengemis, pasti banyak yang mau memberi.
Tapi dia malah menolak pemberian.
Ini aneh untuk zaman ini.
Iya juga.
Mungkin bapak tua kurus itu kira ada alien ujug-ujug muncul.
Alien yang coba tawari suatu eksperimen luar angkasa.
Sesosok berpakaian aneh untuk zaman ini.
Tapi memang bolehlah salut bahwa bapak tua itu mau bekerja keras.
Mengambil hasil yang memang haknya lalu pulang ketika waktunya.
Terus berjalan kaki tanpa istirahat untuk perjalanan yang jauh.
Pikirannya fokus bahwa masih ada keluarga menanti di rumah.
Seperti pula anak-anak muda yang bekerja keras seharian.
Mereka buru-buru pulang dengan mobil atau motor.
Mereka ingin berkumpul dengan keluarga atau pacarnya.
Pantaslah jika semua berebut adu cepat di jalanan kota.
-------------------------------------------------------------
Masih sendirian menunggu teman di teras kafe.
Memandangi jalanan yang makin hiruk pikuk.
Sambil sesekali melihat jam, berpikir-pikir sedang dimana teman-teman.
Seharusnya sejam lalu sudah di ruang acara.
Menikmati diskusi-diskusi, berkenalan dengan Taman 65.
Ikut berpesta mengapresiasi buku baru.
Tapi dimana teman-teman karena kalau sendirian tak tahu jalan ke sana.
Seandainya saya jadi bapak tua kurus itu mungkin tak perlu gelisah soal buku-buku.
Bapak tua kurus kelihatannya tidak seberuntung itu.
Tidak seperti kita-kita yang punya kesempatan merayakan buku-buku.
gerundelan tentang
Foto,
Indonesia-KU,
Ketika Jenuh nge-CAD,
Kota-Ku
Tweet
Selasa, 23 Agustus 2011
Merdeka 66 Tahun
Coba,
apa artinya Merdeka?
Dulu, 66 tahun lebih, jawabannya gampang.
Sasarannya jelas, gambaran cita-citanya sama.
Tentu karena nasibnya masih mirip-mirip, merasa 'sial' bersama-sama.
Kini coba tanyakan lagi,
apa artinya Merdeka?
Sabtu, 23 Juli 2011
"Tahu Imam Prasodjo?"
Saya bertanya kepada teman-teman.
Tidak ada yang tahu.
Maklum, bertanyanya kepada teman-teman arsitektur.
Imam Prasodjo bukan arsitek.
Dia sosiolog.
Tapi dia bisa mengubah wajah hitam kota menjadi lebih cerah.
Tidak ada yang tahu.
Maklum, bertanyanya kepada teman-teman arsitektur.
Imam Prasodjo bukan arsitek.
Dia sosiolog.
Tapi dia bisa mengubah wajah hitam kota menjadi lebih cerah.
Senin, 20 Juni 2011
SEMARANG 2100
Mari berkhayal-khayal kota kita.
Setelah sekian generasi ke depan.
Setelah sekian anak muda pulang.
Membawa modal dan intelektual.
Membawa pengetahuan dan ketrampilan.
Bagaimana cara membangun kotanya.
Sehebat-segegap gempita Dubai, Shanghai, Beijing,
Dan kota-kota Hyper-megalopolis negara maju lainnya.
Mari berkhayal-khayal…
Ini Semarang 2100.
Bandara A Yani sudah di Kendal dan lebih besar.
Reklamasi Marina berhasil jadi pusat pertumbuhan ekonomi prestisius!
Universitas-universitas sekarang berciri teknologi tinggi.
Lulusannya bisa menaklukkan tantangan alam.
dan cakap mencakar-cakar langit.
Warga kotanya terlanjur super-kaya.
Investasi dimana-mana.
Singkatnya Semarang 2100 tidak kalah dengan Dubai, Shanghai, Beijing.
Giat membangun, membangun, membangun,…

Membangun, tapi lupa daratan.
Daratannya tak mampu tahan sekian bangunan.
Diperparah pencairan es kutub efek pemanasan.
Ia pun tenggelam ditelan lautan.
Semarang 2100.
Ada Bukit GunungPati, Bukit Gunung Ungaran.
Ada Pantai Bukit Sari, Pantai Bukit Gombel.
Ada Taman Laut Kota Lama, Taman Laut Pemuda, Taman Laut Simpang Lima.
Dan ada wisata jelajah bangunan tua dalam air.
Semarang Kota Air.
Benar-benar hebat!
Sayang, kita cuma berkhayal-khayal kota kita.
I
I
I
Sabtu, 30 April 2011
Akhir Pekan 23-24 April 2011
Amat jarang punya kesempatan berakhir pekan selain di depan layar monitor di kantor. Namun kerjaan yang menggila membuat hati memaksa diri perlu sedikit penyegaran jiwa. Jadilah Sabtu sore bersepeda solo dengan rencana tujuan Gramedia Mall Galeria, Kuta.
Bersepeda dari Sanur ke Galeria Kuta makan 40 menit dengan mampir beli Kompas di Circle-K & menikmati Roti Canai serta teh tarik khas Warung Bu Nana. Perjalanan pulang makan waktu 30 menit dalam kehati-hatian gelap dan lalu lintas malam. Lalu malam Minggu habis oleh penyendirian membaca buku yang dibeli sambil memantau tv.
Tanpa jeda berlanjut ke Minggu pagi yang indah di pantai Sanur. Menikmati matahari terbit setelah sebelumnya membeli koran Kompas Minggu lagi-lagi di Circle-K. Pantai Sanur pagi ini ramai seperti Minggu lainnya.
Ada anak-anak kecil yang bersepeda riang.
Ada mbok-mbok tekun membersihkan sudut-sudut pantai.
Ada nelayan sigap menjala ikan di tepian laut.
Kumpulan keluarga-keluarga ceria.
Ada juga rombongan olah spiritual yang rutin hadir di situ.
Sementara itu sebagian lain pantai sepi rapi, aman dari jamahan non-tamu hotel.
Begitulah suasana manusia yang mengisi alam indah sepanjang perjalanan Pantai Sanur. Sebuah simbol dan peta jalur pelarian bahaya tsunami menarik mata sebelum mengakhiri 'patroli' pantai.
Kemudian itu masuklah Minggu siang yang tenang dalam tidur sebagai ganti energi yang hilang sejak kemarin.
Ahh akhir pekan 23-24 April yang langka ......
| Teh tarik pake es di Sabtu sore. |
| Tak banyak berita menggembirakan. |
| Mentari Minggu pagi. |
| Senyum tanpa beban. |
| Pengabdian tugas. |
| Mencari ikan. |
| Pantai Sanur yang ramai. |
| Laku olah spritual menyeimbangkan jiwa raga dan alam. |
| Tanpa jamahan non-tamu. |
| Tahu ke mana harus berlari jika ada tsunami. |
Kamis, 28 April 2011
Car Free Deh
Ketika isu 'green' berkolaborasi dengan kemajuan teknologi informasi, sedikit ditambah bumbu 'ababil' (abege 'anak baru gede' labil) cap 'OKB' (Orang Kaya Baru), hasilnya adalah rasa perpaduan hidup yang indah......
Sebuah tren 'fashion' masyarakat serba kini.
![]() |
| Ide didapat selama workshop arsitektur 'Dimanakah Batas Bali?' 2 April 2011. Entah sampai dimanakah kelanjutannya. |
Rabu, 23 Maret 2011
MENONTON DARI PINGGIR JALAN
Perkenalkan, saya pemuda dari Semarang yang merasa beruntung sekali bisa ‘sejenak’ menetap dan berkarya di Bali.
Saya tidak punya angan muluk-muluk mengenai Bali. Tidak tahu akan seperti apa Bali. Saya dengan sepeda hanya bisa menonton dari pinggir jalan. Menonton Bali yang bergerak cepat. Menonton pertarungan-pertarungan ide dan modal. Mungkin pula dengan cara mengintip karena gegap gempita pertarungan berlangsung di balik tembok-tembok rapat berpengamanan lapis rangkap. Mungkin begitulah Bali hidup: sepi di satu sisi dan riuh di sisi sebaliknya. Dari situ saya bertanya-tanya mungkin ini harmoni Bali kini.
Jika saya pulang ke Semarang, disuruh menceritakan arsitektur Bali, mungkin saya hanya bisa menyajikan tembok. Tembok yang membatasi jalan, menyembunyikan keunikan, menjaga tradisi, bahkan mungkin membantu menegakkan seleksi antara yang pantas dan tak pantas masuk. “Maaf, gembel dan rakyat biasa dilarang masuk”.
Bolehkah jika saya berpendapat jika Bali kini adalah kumpulan egoisme-kapitalistik? Tempat kehidupan sudah menjadi begitu keras? Tempat di mana keramah-tamahan dan senyum menjadi dagangan? Mereka yang punya modal silakan menikmati Bali yang indah, yang pas-pasan boleh mengintip sejenak, yang tidak silakan menyingkir. Apa begitu? Entahlah.
Saya hanya baru bisa menonton dari pinggir jalan tak bertrotoar. Menonton Bali yang kini berjalan tol agar bisa melaju lebih cepat.
-Errik Irwan-
(esai untuk mengikuti workshop 'Dimanakah Batas Bali?')
Langganan:
Postingan (Atom)

















