Tergantungnya Simalakama
Hari itu seakan-akan tak banyak arti, mengingat pengerjaan yang dilakukan para pekerja pun beralih fokus pada titah Kanjeng Ratu. Apa daya tangan tak sampai, semuanya terasa menjemukan para panglima, ditambah kepergian Ayik. Ayik merupakan pengawas ketiga yang mendadak lenyap setelah Gideon dan Bosky. Odot dan Tam-tam berusaha sekuat tenaga mempertahankan detik-detik terakhir mereka, mengingat beberapa penyelesaian belum ditangani secara maksimal.
Merasa belum puas bertitah, Kanjeng Ratu pun melanjutkan tuturan menusuknya. Namun, kali ini, perbincangan tengah berlangsung di dekat singgasananya. “Mas, hari ini para tukang bekerja untuk yang terakhir kalinya”, tutur beliau penuh kemenangan. “Oh ya? Bukannya Pak Imron sudah bilang bahwa tiga pekerja akan tetap dikerahkan guna menyelesaikan proyek ini, Tante?”, timpal Odot penuh rasa ingin tahu. “Iya, Cuma, saya ndak mau seperti itu. Saya pikir bahwa Pak Imron tetap menyelesaikan proyek ini, eh, malah ditinggal pergi. Palingan Bapaknya takut proyek ini akan diambil orang lain kali, ya”, tutur beliau seraya menghardik Pak Imron.”Oh, begitu ya, Tante?”, tutur Odot sembari melirih. “Iya, Mas. Lagian, dananya sudah nggak ada, tuh”, timpal Kanjeng Ratu penuh kemenangan. “Oke, Tante, berarti mulai besok, kami sudah tak bersinggah kemari. Kami hanya hendak memastikan saja. Terima kasih ya, Tante sudah mau menginformasikan hal tersebut”, timpal Odot lirih dan pasrah. Entah kesalahan apakah yang telah dilakukan oleh kedua pemuda malang tersebut sehingga Sang Ratu pun tampak sedikit tak menyukai mereka, pada akhirnya. Ya, mungkin semua ini disebabkan oleh membengkaknya waktu pengerjaan proyek yang tak kunjung usai.
 |
| Proses Pembersihan Lokasi |
 |
| Proses Pengankutan 'Sampah' Proyek |
 |
| Desain Akhir Kolom Struktur |
 |
| 'Kegantungan' Di Tengah Jalan |
Singkat cerita, Odot dan Tam-tam segera berpamitan hendak meninggalkan kediaman Kanjeng Ratu dengan perasaan berkecamuk. Bagaimana tidak, kegundahan kian merajalela mengusik ketenteraman jiwa para jenderal. Mereka selalu bertanya-tanya, akankah kejadian ini pada akhirnya menjadi kesalahan mutlak mereka? Haruskah mereka menanggung segala akibat konflik berkepanjangan di antara Kanjeng Ratu dengan Putra Mahkotanya? Lantas, bagaimanakah nasib desain-desain kamar mandi, pintu kamar mandi, serta bangku penutup pemipaan? Akankah desain yang telah dibuat oleh Odot dan Tam-tam akan terlaksana kemudian hari? Seperti bisa keji yang terperangkap dalam sukma menembus kelogikaan. Apa boleh dikata, kedua pemuda bak terperangkap layaknya buah simalakama, tak berkutik dan terkucilkan. Sungguh akhir yang misteri.
 |
| Detik-Detik Kepergian Ayik |
 |
| Kunjungan Myth dan Kanjeng Mbah (Tamu Istimewa II) |
 |
| Selalu Berpikir! |
 |
| Kondisi Proyek Akibat Titah Sang Ratu |
 |
| Akhir Pekan Ketiga |
 |
| Suasana 'Sumur Boto' Pada Penantian Terakhir |
Migrasi Di Kala Penantian Pangeran
Hari berganti hari, kegelisahan Odot kian memuncak menggeliat penuh murka. Kegundahan meluputi wajahnya, tampak jelas sekali. Beberapa hari berselang, seolah-olah damai mulai berpihak pada para jenderal. Salah besar, sungguh salah besar. Beban tergantung seolah-olah enggan menyingkir dari pikiran Odot dan Tam-tam. Kendati proyek ini tengah berhenti sesaat, mereka berdua kerap mendiskusikan spekulasi-spekulasi pada masa yang akan datang via ponsel mereka masing-masing. “Bos, aku merasa tidak enak dengan Eiw. Kita tak mampu menyelesaikan proyek ini hingga tuntas. Aku merasa bersalah”, tutur Tam-tam lirih. “Ya, aku sependapat denganmu. Namun, kita tak bisa berbuat banyak, Bos. Kita sudah berusaha menjadi penengah yang baik. Toh, kita pun berusaha semampu kita. Aku yakin, kok. Kita sudah berusaha...berusaha...sebaik keuletan kita sendiri, benar kan?”, tegas Odot sembari menghibur Tam-tam. “Iya, semoga saja Eiw berkenan”, timpal Tam-tam nan singkat tetapi penuh keraguan. “Selalu semangat, Bro!”, timpal Odot seraya mengakhiri diskusi media digital tersebut.
Sepintas ponsel tampak bersantai ria, menikmati kesendiriannya. Tiba-tiba, lantunan melodi pop jazz segera membelalak penuh nafsu memenuhi ruangan. Ternyata adalah pesan singkat Kris yang hendak bersua guna membahas sesuatu yang tak kalah pentingnya. Odot pun menyanggupi permintaan Kris di kala senja tersebut. Ada-ada saja, ketika petang menyambut penuh keraguan, Odot pun tiba di kediaman Amar, tempat yang telah dijanjikan Kris. Singkat cerita, terjadilah perkelahian nan sengit mengenai pekerjaan Pak Aan, kursus Bahasa Inggris, desain Cafe, hingga masalah magang di konsultan milik salah satu arsitek papan atas, You See. Luar biasa, setiap individu memiliki alasan masing-masing demi mempertahankan argumentasi mereka. Diskusi yang tergolong cukup singkat dengan dua serangkai tersebut tentunya semakin membuat suasana memburuk. Namun, satu hal yang telah dipelajari dari kejadian tersebut, bahwa setiap individu pasti memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan individu-individu yang lainnya. Mustahil, bila tujuannya selalu demi kepentingan bersama. Ada kalanya setiap individu berhak membatasi ruang pemikiran pribadinya tanpa campur tangan individu yang lainnya. Kebebasan tersebut sering dikaburkan dengan berbagai istilah-istilah kebersamaan, seperti simbiosis mutualisme. Namun, dalam pelaksanaannya, hubungan simbiosis jenis ini tak selalu berjalan mulus karena setiap individu pun memiliki sifat egois masing-masing sehingga ‘keadilan’ hubungan tipe ini tentunya pun berbeda-beda pengertiannya.
Selang beberapa hari penuh kedamaian, tiba-tiba Odot dikejutkan oleh kehadiran sosok sang pangeran, Eiw. Ia menghubungi Odot via ponsel. “Dot, kau dimana sekarang? Kapan kah kau ke Surakarta? Bagaimana kabar sumur boto?”, tutur Eiw secepat kilat. ”Belum, Eiw, aku masih menulis laporannya, soalnya kisah ini bakal panjang bukan kepalang. Banyak hal yang hendak aku ceritakan pada episode terakhir ini”, timpal Odot datar. “Iya, sebenarnya, menurutku, kau tak usah lah terlalu panjang lebar menceritakan kisah sumur botonya. Contohlah tulisan Emel, menurutku dia sudah pas. Kalau tulisanmu itu terkesan panjang sekali sehingga orang pun akan lelah membacanya”, timpal Eiw cepat. “Iya, Eiw. Aku mengerti. Tulisannya sengaja aku buat panjang sekali karena hendak ku jadikan sebuah buku. Jadi, aku memang hendak menyelesaikan semuanya, baru aku segera memposting ke dalam blogku serta emailmu”, tangkas Odot membela diri. “Iya, betul. Namun, sebaiknya kau segera menyelesaikan tulisan ‘sementaramu’, yang singkat saja, tak usah lah terlalu panjang. Aku sangat penasaran keadaan terakhir sumur boto. Apakah sekarang proyek tersebut masih berlangsung?”, timpal Eiw penuh selidik. “Proyek telah terhenti sejak beberapa hari yang lalu, Eiw. Sebenarnya, aku pun telah berada di Surakarta sekarang. Namun, aku akan segera menyelesaikan tulisanku secepat aku bisa, Eiw”, timpal Odot sedikit labil. “Sebenarnya...”, sambungnya. “Pak Imron telah menugasi tiga orang pekerjanya agar tetap menyelesaikan proyek ini hingga tuntas. Namun, Ibunda tercintamu, Kanjeng Ratu En-en, segera memutuskan kontraknya. Alasan yang aku ketahui adalah karena keterbatasan biaya dan kepergian Pak Imron lah yang membuat beliau bertitah demikian”, tutur Odot panjang lebar. “Um...”, gumam Eiw sembari mencerna perkataan Odot. “Oke, namun, apakah ada orang yang dapat diandalkan ketika kau tidak berada di Semarang? Apakah Ayik masih menggeluti proyek ini?”, timpalnya penuh teka-teki. “Ayik telah keluar beberapa hari sebelum proyek ini berakhir. Ia terlihat terpontang-panting dengan kesibukannya. Ia sendiri yang memilih lenyap untuk sementara waktu. Aku pun tidak dapat memaksakan kehendaknya, Eiw”, timpal Odot penuh keyakinan. “Lalu...”, sambungnya cepat. “Untuk masalah orang yang dapat diandalkan, aku tetap mempercayakan Tam-tam. Mengapa demikian? Selama proyek ini berlangsung, yang tetap bertahan dari awal hingga akhir hanyalah aku dan Tam-tam, sementara Gideon, Bosky, dan Ayik berguguran dan musnah”, tangkasnya kemudian. “Oh, oke kalau begitu. Oh ya, keberadaanmu tentunya sebagai wakil dari CS8, Dot. Kau ibarat mendapatkan titah dari CS8 guna menggapai ilmu disana. Pereratlah tali persaudaraan antarkomunitas dan diskusi. Bila kau membutuhkan subsidi anggaran ketika disana diadakan suatu diskusi”, timpalnya. “Lalu...”, sambungnya tanpa memberikan ruang berbicara bagi Odot. “Aku berencana hendak ke Semarang akhir tahun ini, sekitar pertengahan bulan terakhir tahun ini. Aku berecana hendak mengadakan diskusi yang santai dan hanya bersifat senang-senang saja, tidak seberat acara Imagination kemarin”, timpalnya kemudian. “Oke, Eiw. Namun, aku juga tak tahu pasti apakah aku dapat menghadiri undanganmu itu. Aku pun tak tahu kapankah aku bisa mengambil cuti”, timpal Odot sedikit bimbang. “Oke, tak masalah. Jangan lupa beritahu rekan-rekan lainnya ya. Oh ya, satu hal lagi. Blog CS8 telah siap untuk diisi. Apakah kau telah mengecek FB? Aku telah mengundang kau, Emel, dan Amar agar kalian menjadi pengisi materi blog tersebut. Sekian saja yang butuh aku informasikan kali ini, Dot”, timpalnya sembari mengakhiri perbincangan.
Gantung, sebuah kata singkat, namun amat berarti bagi Odot. Apakah sang pangeran mengetahui dilema yang tengah menimpa Odot? Apakah setiap anggota CS8 pun mengalami nasib yang serupa? Siapakah biang keladi dibalik semua ini? Mengapa masalah kian meluluh lantahkan persatuan dan kesatuan suatu komunitas? Apakah setiap anggota CS8 mampu mengerti kepentingan pribadi masing-masing anggotanya? Ya, semuanya patut dijalankan tahap demi tahap. Mungkin inilah titik awal pendewasaan karakter Odot, agar mampu berpikir lebih kritis dalam menyikapi setiap persoalan di dalam hidupnya. Namun, semuanya harus dijalani dengan penuh kesabaran, keuletan, serta kegigihan. Alhasil, semuanya pasti membuahkan suatu kebaikan. Semuanya akan terjawab dan terbukti seiring berjalannya waktu.
Written by AJMariendo