Tampilkan postingan dengan label Sana-Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sana-Seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2015

Je suis CHARLIE


"Je ne suis pas d'accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu'à la mort pour que vous ayez le droit de le dire."

- Voltaire (1694 - 1778)


(I do not agree with what you have to say, but I'll defend to the death your right to say it. - Voltaire)

#CharlieHebdo

Kamis, 13 November 2014

Kutipan untuk mahasiswa dan Sarjana



"Jika kalangan mahasiswa dan sarjana atau kaum terpelajar lain sudah ada 5% saja dari alumni, yang memberanikan diri merintis paradigma baru dalam hal kebudayaan dan pendidikan bangsa kita, kita sudah dapat bersyukur. Tetapi 1% pun sudah cukup juga, sebab bukan yang banyak itu yang baik, tapi yang baik akhirnya toh akan menjadi banyak."

- Y.B Mangunwijaya - 


kutipan favorit saya dari buku tentang Mangunwijaya, "Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat", halaman 152.

Senin, 17 Juni 2013

Lennon, Ono, Sagmeister, Hundertwasser, dan KPK



Senin, 13 Mei 2013

Mohon Pencerahannya

Saya amati anak muda zaman internet ini punya 'pede' (pd: percaya diri) cukup tinggi. Mereka berani unggah karya mereka, apapun bentuknya, ke ruang publik ramai. Hebatnya lagi (ini yang bikin saya bilang mereka pedenya tingkat tinggi) mereka mengundang siapa saja untuk beri komentar. Bahkan (ini yang bikin saya kagum!) memohon nasehat dan kritik pedas dari siapapun. Dengan mantap mereka sampaikan,

"Mohon pencerahannya gan!"

Senin, 11 Maret 2013

Seandainya FPI Ketemu FPA




Kamis, 06 Desember 2012

Propaganda Untuk Workshop 3 Urban Sketchers Bali

Untuk WORKSHOP 3 pertemuan Minggu ke 5 (Quick sketch with Mix Media and preview about Urban Sketchers)


Setelah dua kali terjun langsung ke lapangan merekam objek-objek & berbagai kejadian (jadi gak terbatas soal gedung) dengan goresan-goresan tangan maka:

- Sabtu, 08 Desember 2012, 09.00 WITA (bukan WIB!)
- di Danes Art Veranda Jl. Hayam Wuruk 159, Denpasar, Bali, Indonesia.

Kawan-kawan Urban Sketchers Bali bakal mengadakan workshop 'taktik & strategi' sketsa cepat yang memang jadi ciri khas gerombolan, maksudnya komunitas, urban sketchers di manapun. 

Buat yang ingin mencoba taktik 'hit & run', maksudnya sketsa, diharapkan membawa peralatan & perlengkapan gambar sendiri (cukup yang standar-standar aja: pensil, pena, kertas buat gambar. Yang mau lebih dari standar juga boleh: alas gambar, tinta China, cat air, cat minyak, cat tembok, cat kuku, dsb..dsb.. yg dirasa cocok dengan minat (& kepribadian)). 

Bagi yang cuma ingin tahu dan ingin nonton (dan butuh teman ngobrol seputar apa aja) silakan juga untuk datang. 

Yang mau melihat grup & beberapa karya silakan klik ini --> http://www.facebook.com/groups/386855931397283/

(Ngomong2, ada yang mau nyumbang spagetti gratis???)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4233585245620&set=a.1047836123883.2010381.1465105016&type=1&relevant_count=1

Kamis, 29 November 2012

Gotong Royong Untuk Semarang 2020



Kamis, 22 November 2012

Urban Sketchers Bali dan Persiapan Aksi Perdana di Lapangan



Sabtu, 24 November 2012 kawan-kawan 'Urban Sketchers Bali' untuk pertama kali akan coba terjun langsung di 'lapangan'. Melalui goresan-goresan tangan kawan-kawan coba merekam objek ataupun kejadian di lapangan Niti Mandala Renon dan menjadi karya 'dokumentasi' yang diselesaikan di tempat (sesuai namanya, urban sketchers, bukan home sketchers). Untuk selanjutnya, seminggu sekali, kawan-kawan ini akan coba terjun di berbagai tempat lain di Bali mungkin hingga ke pojok-pojok kolong yang belum dilihat mata dunia.

Sabtu besok kawan-kawan lain jika ingin 'nimbrung' a
tau sekedar memuaskan rasa ingin tahu bisa datang mulai jam 9 pagi. Bagi yang ingin serius terlibat cukup bawa alat gambar, kertas/buku sketsa, dan sejumlah semangat. Silakan juga persiapan-persiapan lain seperlunya (ingat, seperlunya saja. Ini bukan perang-perangan). Silakan kawan-kawan.

Rabu, 24 Oktober 2012

Sanur Community Market untuk Sumpah Pemuda


Rabu, 26 September 2012

Runtuhnya Plafon Kami



Ini tentang kaum-kaum yang habitatnya bersahabat dengan gunjang-ganjing-naik-turun-gak stabil-penuh dinamika-nyerempet-nyerempet maut. Maksudnya orang-orang yang dunia kerjanya gak monoton-rutin tapi kadang tenang kadang ribut dikejar hantu deadline. Khas kaum kreatif-inovatif-seni(-juga kewartawanan, mahasiswa mungkin iya). Mirip-mirip dunia tentara: Kadang damai, kadang perang. Dan mereka suka bikin perayaan tiap lolos dari deadline. Mirip-mirip dunia tentara: Kalau menang, perang usai, wah perayaannya....

Sulit memang untuk dibayangkan kaum-kaum berhabitat stabil-serba rutin-mapan-pasti-pasti saja hidupnya. Memang ini di luar gambaran kawan-kawan perbankan, atau pegawai negeri yang adem ayem itu, (atau orang kaya baru rangkap politisi yang sudah nyaman duduk di singgasana negeri atas awan yang hari-hari serba tentram baca statistik-statistik kemakmuran entah darimana-bagaimana hitung-hitungnya..)

Untuk itu kami bantu berikan ilustrasi, betapa gila dan gawat juga perayaan-perayaan lepas dari maut deadline.


I
I
I


Kira-kira begitu. Kami publikasikan gambar itu. Tapi rupa-rupanya gambaran tersebut menimbulkan citra yang tidak-tidak seolah-olah kami kaum-kaum tak stabil tapi kreatif-inovatif (yang suka dikejar hantu deadline) gemar perayaan-perayaan kemenangan gaya milisi pemberontak Libya atau rakyat Irak yang pro-sekutu pasca Saddam (atau nanti milisi Suriah pasca Assad) hingga sampai-sampai plafon dunia kerja kami pun runtuh.

Runtuh iya (demikianlah pada Rabu 18 Juli 2012 di markas BDS Bali). Perayaan agak gila iya juga. Tapi ada banyak faktor yang sangat rumit (jadi jangan terlalu cepat ambil kesimpulan, suka prasangka-prasangka) soal runtuhnya plafon kami. Untuk itu kami mencoba bersikap sangat objektip untuk luruskan gambaran-gambaran yang mencong-mencong di kepala kawan-kawan (yang sulit sekali membayangkan dunia yang kami maksudkan).

Salah satu situasi darurat deadline. Tak ada yang senyum.
Kalau deadline akhirnya berakhir. Terlihat ada senyum-senyum. (Wajar)
Ekspresi kebebasan dirayakan dengan makanan. Penuh rasa syukur nikmati jerih payah. (Masih wajar)
Mulai ada yang aneh-aneh: perayaan kebebasan dengan parade tank. (Mulai tak wajar)
Ini sudah berlebih. Merayakan kebebasan pakai bom alih-alih kembang api. (Sangat tak wajar)
Akhirnya: runtuhnya plafon kami. Runtuh tahap awal (sebelum runtuh semua dan malang nasib orang-orang ini).
Orang-orang lenyap. Mungkin tertimpa reruntuhan (kebetulan sekali yang ambil foto ini datang terlambat).


----------------

Tapi, sekali lagi, jangan terlalu cepat ambil kesimpulan tidak-tidak seolah-olah telah terjadi bencana kemanusiaan dengan korban jiwa cukup banyak.
Ternyata semua selamat. Dan untuk itu kembali dilakukan perayaan (kali ini secara wajar sekalian berbuka puasa).
 ----------------

Pelajaran berharga: 
1. Over euphoria can kill you.
2. Jangan cepat-cepat ambil kesimpulan (juga menerima cerita ini mentah-mentah).


Rabu, 15 Agustus 2012

Me-ROKOK


Sabtu, 11 Agustus 2012.
Izinkan saya bercerita (mungkin mengeluh lebih tepatnya) soal kejadian pada sore (berangin) itu.

Patut disyukuri bahwa Pulau Bali memiliki banyak sekali agenda bermutu tapi (nah, yang paling disyukuri) gratis. Bagi orang-orang yang tak punya 'kerjaan' di malam Minggu tentu ini berkah (puji syukur sekian kali lipat!). Salah satu dari sekian agenda 'berkah Tuhan' itu adalah membahas novel. Ini novel sejarah dengan tema cukup serius: Tragedi '65 di Republik tercinta ini. Serius temanya (yang juga 'seksi' karena penuh misteri) tapi pop dalam cara saji (dengan bumbu yang juga seksi-seksi juga di novel itu). Apalagi pengarangnya adalah jurnalis-budayawan yang tulisannya di harian edisi Minggu enak-renyah betul dibaca. 

Oh, tentu pasti saya tempatkan sebagai agenda prioritas sejak panitia membocorkan info ini jauh-jauh minggu. Apalagi panitia empunya tempat yang rutin gelar berbagai agenda budaya amat aktip-agresip dalam mengajak massa. Kalau perlu mereka telpon satu-satu para pemilik nomor telpon agar datang hingga terbentuklah massa. Hebat betul taktik gerilyanya!

Saya aktip-agresip juga ajak teman-teman. Ini agar berkah 'kemerdekaan' dapat ilmu bisa dirasakan juga oleh kalangan lebih banyak dan lebih luas agar kemerdekaan tak dinikmati sendiri karena merdeka bersama-sama lebih membahagiakan (sesungguhnya juga agar saya dapat tumpangan dan teman obrolan selama ke sana dan di sana). Tapi gagal misi ajakan saya (teman-teman serba sibuk bahkan di malam Minggu) dan hukumannya ya saya ke sana sendirian.

Pukul 19.00 WITA sampai di TKP (Tempat Kejadian Perhelatan) setelah 30-an menit kayuh sepeda 'gerilya' senjata andalan mobilitas sehari-hari. TKP budaya biasanya masih masih sepi saat acara seharusnya dimulai (sehingga molor 1 jam). Tapi kali ini ramai betul. Halaman parkir di muka sudah penuh mobil dan benarlah dugaan dini bahwa yang datang adalah orang-orang cukup terpandang dalam ranah seni-budaya-sosial. Terlihat yang generasi tua ngumpul bentuk grup obrolan. Yang generasi muda juga ngumpul bikin grup obrolan gaul. Yang tua merasa muda dan yang muda tapi ketuaan juga aktip ngobrol sana-ngobrol sini (Tapi secara keseluruhan TKP sore ini dipenuhi yang tua-tua. Yang muda-muda lebih senang pacaran entah di mana, mungkin.)

Banyak yang mengobrol sambil ditemani cemilan dan minuman. Dan tidak lupa sesuatu yang seperti wajar ada di kaum-kaum seniman: Rokok (kalau bir belum terlihat. Tapi nanti ada). Ya, asap menghiasi suasana malam pesta taman tempat novel & tragedi '65 akan dibahas. Masih wajar. Tak ada tanda larangan merokok, ini di ruang terbuka, acara belum dimulai, dan ini kumpulan seniman-budayawan-penggiat sosial. 

Tapi jadi tak wajar kemudian. Ternyata ada anak-anak dan itu asap-asap masih saja terus mengebul dari mulut-mulut peserta hajatan saat acara menarik itu dibuka dengan film dokumenter. Seorang cewek muda yang saya tahu seorang penyanyi berbakat sebaris dengan saya di tangga ampiteater depan dengan enaknya mengebul-ngebul seolah sedang berada di tengah kebakaran hutan sehingga mungkin menurutnya terasa wajar asap-asap itu mengudara dan terekspor ke wilayah saya (angin mengarahkan begitu). Padahal ada anak perempuan kecil yang mondar-mandir penuh keriangan dekat situ seolah sedang berada di padang rumput maha luas tanpa batas. Eh ternyata di deretan kursi di belakang kami juga ada sosialita, tante necis-genit-penuh pede tingkat tinggi (dari caranya berbicara dan bersikap akan segera mengorbitkan dirinya dari sekian genangan massa), yang juga aktip-agresip ngebul-ngebul asap bikin mulutnya kayak cerobong pabrik jadul giat kejar setoran tanpa peduli lagi sama lingkungan.

Dan ternyata si pabrik jadul itu adalah tante yang cukup ternama pemilik beberapa galeri (termasuk di Paris!) yang aktip gelar perhelatan seni di mana-mana dan yang malam itu didaulat membacakan sepenggal kisah dari novel '65 yang seksi itu (benar, penuh kisah sex!) sambil diiringi permainan biola yang indah dari anak perempuan, usia SMP tapi amat berbakat, yang tadi duduk di dekatnya. Nyaris saja tante itu bawa cerobong asap, maksudnya rokok, ke panggung beralam terbuka itu dan mengebul-ngebul. Tapi tetap saja 'asap kebakaran hutan' yang diekspor cewek muda penyanyi berbakat masih menguasai pandangan saya ke panggung alam terbuka dan merusak kesenangan saya dalam menikmati pentas si tante dan si anak perempuan pemain biola. Entah yang lain terganggu juga atau tidak. Tapi yang jelas anak perempuan kecil yang mondar-mandir penuh keriangan dekat situ (seolah sedang berada di padang rumput maha luas tanpa batas) sepertinya tak terganggu karena masih saja beraksi begitu (kali ini sambil foto sana-foto sini). 

Pembahasan novel dan tragedi '65 oleh pengarang yang jurnalis-budayawan yang ditemani sahabatnya yang ilmuwan-peneliti-penggiat sosial dan dipandu moderator yang penyair sekaligus 'empunya' TKP jadi tak beroleh porsi besar lagi dari pikiran saya. Harus diakui bahwa sesungguhnya memang bermutu hajatan budaya malam itu (apresiasi juga untuk perserta yang aktip berinterasksi) selain juga karena temanya yang bagus (serius tapi seksi karena penuh misteri). Hanya memang harus diakui juga pikiran saya justru bermain-main soal betapa tak bermutu budaya adi-luhung itu orang-orang yang mengebul-ngebul asap tak peduli lingkungan sekitar, parahnya di dekat anak-anak kecil yang memang masa lagi gemar-gemarnya dalam meniru orang yang lebih berumur darinya. Saya malah teringat seorang teman 'jauh' yang hobi merokok tapi puasa itu di depan anaknya demi memberi teladan sebagai ayah yang baik. Teman saya itu mungkin tak seseniman-budayawan-penggiat sosial seperti yang melekat diakui (masyarakat luas) ada pada hadirin yang saya lihat saat itu tapi kepekaan hati dan jiwanya atas keberadaan orang serta lingkungan sekitarnya bolehlah (kita) acungi jempol punya kualitas seniman-budayawan-penggiat sosial. Itu dari aksi sederhana tak merokok di dekat anak kecil (anak siapapun itu). Harap maklum dan maafkan kalau rasa bersyukur saya berkurang atas berkah agenda malam Minggu ini. Amat sedih memang bahwa itu terjadi di tempat dan agenda berlabel 'budaya'.

Saya memang tak sepercaya diri partner gerilya saya (sayang sekali dia tak datang) yang pasti akan menegur langsung orang-orang itu. Seperti kata-katanya bahwa dia maklumi mereka-mereka yang bersenang-senang dengan mabuk, rokok, dan sebagainya asal itu tak mengganggu orang lain apalagi mengedukasikan 'senang-senang' itu pada mereka-mereka yang lain yang tak mengenal 'senang-senang' itu. Jadilah sikap saya diam tak berani peringatkan atau larang-larang (sekali lagi harap maklum saya ini minderan). Tapi tim gerilya di otak tak pernah tinggal diam (harap maklum mereka selalu suka bersiasat main belakang).

Pukul 22.30 WITA sambil kayuh sepeda 'gerilya' pulang melalui malam berangin kencang bergerilyalah pula pikiran untuk membalas itu kelakuan-kelakuan bikin pahit kenyataan.

Saya berimajinasi meremuk itu orang-orang dengan asap kendaraan, yang wah, amat tak ramah lingkungan!).



Ya, harap maklum senjata saya cuma imajinasi. 
Silakan saja cara kawan-kawan...

Kamis, 19 Juli 2012

Menuju Aksi Perdana Sanur Community Market



Pasar organik 'Sanur Community Market'.
Dimotori teman-teman Healthy Food Healthy Living 
bekerja sama dengan Satvika Bhoga dan Akarumput.

Pasar organik ajang di mana komunitas-komunitas pangan dan lingkungan 
serta petani-petani organik lokal menjajakan produk, program, 
dan kisah di balik itu semua kepada masyarakat luas.

Penuh harap dari kegiatan ini terjalin sinergi antar komunitas kreatif peduli lingkungan.
Penuh harap pula ada keberlanjutan aksi-aksi dan agenda yang sudah berlangsung.
Dan jelas penuh harap ada apresiasi dan peningkatan partisipasi dari masyarakat awam dan sekitar.

Apa yang dilakukan teman-teman ini hanya langkah kecil 
dalam gegap gempita gerak Bali 
tetapi tetap bermakna besar bagi keberlanjutan kehidupan Bali yang lebih sehat.
Langkah kecil yang dimulai dari pojokan Sanur. 
Juga pojok-pojok lain Nusantara.

Salut untuk langkah perdana teman-teman 'Sanur Community Market'!
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








I
I
I








Jumat, 04 Mei 2012

Imajinasi Kota Dalam Taman



Imajinasi Kota Dalam Taman ini sesungguhnya hanya ide sederhana.
Ini muncul ketika saya prihatin melihat dus-dus dan kotak makanan yang mau dibuang.
Rasanya sayang betul.
Lalu tiba-tiba saja muncul imajinasi seolah yang saya pandangi bukanlah dus-dus dan kotak-kotak tak berguna tapi sebuah tumpukkan bangunan.

Saya berimajinasi ada banyak dus-dus dan kotak seperti ini yang masih bisa diberi kesempatan tampil di taman.

Saya berimajinasi mereka adalah sekumpulan bangunan.
Mereka didandani layaknya bangunan-bangunan kita yang gemar bersolek.
Menarik juga jika orang-orang tak dikenal, yang malu-malu tapi gemar juga berdandan-dandan, ikut terlibat mendandani dus-dus dan kotak ini
(lumayanlah dapat kenalan baru).

Pada akhirnya dus-dus dan kotak-kotak ini bisa ikut tampil dalam sebuah panggung taman hijau.
Mereka perkenalkan diri sebagai sebuah kota yang padat.
Kota dalam taman.

Kota yang ditata oleh berbagai tangan, dengan bunga-bunga, dan juga cinta.

Lalu bagaimana jika robot, monster, dan berbagai mainan ikut hadir?
Entahlah.
Tapi yg pasti sebuah cerita dan peristiwa bisa terjadi

Entah siapa penulis cerita dan sutradaranya. Entah apa skenarionya.
Siapa penonton, siapa pemain.
Kelihatannya tak jadi soal.
Yang pasti sesuatu akan terjadi dan kita tinggal mengikuti serta merekam.

Mengikuti imajinasi diiringi musisi-musisi.
Merekam dalam pikiran dan alam bawah sadar kita.

Ini hanya salah satu cara merayakan ruang(waktu) terbuka. Merasakan jadi manusia yg manusiawi di kota.

Kira-kira begitu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








(Sampai berjumpa di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar. Minggu sore, 06 Mei 2012, mulai jam 15.00 WITA. Bawalah dus-dus dan kotak yang tak dipakai lagi di sekitarmu. Bawalah juga mainan kesukaanmu. Juga bawa alat musik. Jangan lupa segenap semangat dan imajinasi.)

Jumat, 27 April 2012

Niti Mandala Road

Kami punya ide di suatu hari.
Ide itu untuk Minggu 29 April 2012.
Kami rencanakan mulai jam 15.00.
Ini bertempat di sekitaran Puputan Niti Mandala Renon.
Kami ingin merayakan ruang(waktu) terbuka.
Merasakan jadi manusia yang manusiawi di kota.

Kami akan joging dan jalan santai.
Tentu ada yang akan berfoto ria.
Beberapa bermain sketsa.
Boleh digenapi dengan cat air.
Kami berkarya merespon suasana kota.
Moga-moga bisa jadi peta.

Bila capek maka kami akan berhenti.
Minum ramai-ramai sambil ketawa-ketiwi.
Saat ngobrol ditemani cemilan bikinan sendiri.
Ada buah dan rujak yang bebas diambili.

Mungkin ada yang akan berpuisi-puisi.
Boleh sambil ditemani permainan musisi.
Lalu akan ada rekan yang rekam sana-sini.
Ini bekalnya ke Jepang buat promosi.

Moga-moga ide kami ini jalan.
Tak perlu bangun pagi untuk kegiatan ini.
Silakan saja bergabung ikut meramaikan.

Sampai bertemu di Puputan Niti Mandala Renon.
Sampai bertemu Minggu 29 April 2012.
Jam 15.00 WITA.

Selasa, 24 April 2012

Bermain (lagi) di Sanggar Anak Tangguh


Saat orang-orang dewasa sibuk ribut-ribut berkonflik dan musuhan,
anak-anak Sanggar Anak Tangguh ini sibuk bekerja sama dan berkarya.

Hari Minggu, 15 April 2012, di Desa Guwang, Gianyar.

Banyak hal bisa diserap dari kegiatan anak-anak ini.
Ada kreativitas, keceriaan, semangat, dan kekaryaan.
Saya jadi terbawa suasana itu.

Jadilah gambar bercat air ini saat itu juga.


(Saya berjanji bersama-sama mereka membuat komik. Mereka tampak sangat tertarik melihat proses gambar ini dibuat sampai-sampai lukisan itu tak jadi)


(maap, jepretan saya buruk)

Kamis, 05 April 2012

Ketemu Pablo Ientile


Yang namanya kerjaan selalu menumpuk.
Dikerjakan di awal pun tetap akan menumpuk.
Itu karena selalu ada revisi, atau tambahan-tambahan biar selalu ada tumpukan.
Itulah rutinitas.
Itulah (pabrik) arsitektur.

Maka itu ketika Pablo Ientile datang ke Bali dan ingin berbagi cerita,

perlulah ada jeda rutinitas.
Ajak teman-teman, bawa alat gambar-alat rekam.
Sambil menggambar-sambil merekam saya tanya dalam hati:

"Apa kerjaan orang ini?"

Betul, yang dilakukan Pablo seperti orang tak punya kerjaan.

Tak percaya, coba lihat isi situsnya ini.

Dan heran betul kita berbondong-bondong datang, 

bengong-bengong terkagum-kagum simak cerita-ceritanya.
Soal mengapa dia keliling dunia,
soal bagaimana dia bisa keliling dunia.

Tapi memang bolehlah cerita pengalaman-pengalamannya.

Soal cerita dibalik goresan tangannya,
atau goresan tangan orang yang ditemuinya di mana-mana.

Ini tentu beda kalau saya yang disuruh cerita.

"Bung, ceritakan pengalamanmu!"


"Oh, pengalaman saya mengerjakan pekerjaan yang selalu menumpuk. Terus ditumpuk-tumpuk. 
Lembur..lembur.. dan lembur menggambar apa yang saya sendiri pusing ini apa."

Itulah rutinitas (saya).

Itulah (pabrik) arsitektur (yang saya alami).


Beda betul sama Pablo.


.....

Minggu, 25 Maret 2012

Bali Urbang Farming - Air Strike


http://akarumput.com/environment/land-for-our-sovereignty/ 
http://akarumput.com/environment/grow-your-own-food-1/
http://akarumput.com/environment/grow-your-own-food-2/

Kamis, 02 Februari 2012

Happy Holy-Day

 ...

Happy Galungan..
Happy Kuningan..
Happy Holy-Day...

Have a good-great day....





(Front Line, BDS Bali Camp, January 31th - February 1st-2nd 2012)

................



Kamis, 01 Desember 2011

GERILYA

Ini materi untuk Bali Creative Festival 2011.

Sabtu, 05 November 2011

Vote Robin Lim For CNN Hero 2011


Di saat kita ramai-ramai mempeributkan sesuatu yang remeh temeh
dan juga di tengah ramai-ramai berita tentang keterpurukkan negeri ini
ada beberapa sosok yang terus bergerak,
senyap dalam sepi,
berbuat sesuatu untuk sesamanya yang membutuhkan.


Sosok-sosok ini bergerak karena dorongan hati.
Tulus, sungguh-sungguh, mengalir wajar, tak berharap gegap gempita.
Kesungguhannya bisa diukur dari waktu,
dari seberapa lama ia telah abdikan dirinya.
Mungkin pula dari pengorbanan
yang tak semuanya bisa diukur dengan matematika.


Ada banyak sesungguhnya sosok-sosok seperti ini.
Salah satunya saja Ibu Robin Lim,
seorang bidan,
mungkin juga seorang ibu bagi kita semua,
yang telah membantu kelahiran di banyak keluarga
utamanya yang tak mampu
dengan berbekal kearifan-kearifan lokal nusantara kita
dan tentu saja cinta.


Mungkin sekilas saja kita tahu dari Kick Andy
atau dari berbagai publikasi lainnya.
Dan mungkin pula hanya sebentar gambaran akan sosok ini bertengger di kepala kita.


Tapi coba tanya pada mereka yang ditolong
ataupun terlibat mengabdi berdampingan bersamanya
ataupun cobalah bertemu langsung menyaksikan dari dekat
atau bahkan mungkin langsung merasakan sentuhan pertolongannya.
Sosok ini tentu akan makin berarti dari sekedar teks-teks.


Saya beruntung berada di Bali.
Sempat melihat dari dekat sosoknya meskipun itu hanya saat presentasi.
Tapi saya lihat sendiri bagaimana ekspresi orang-orang yang pernah ditolongnya
ataupun orang-orang yang terlibat aktif dengannya.
Itu ekspresi-ekspresi luar biasa yang sulit dipetakan dengan kata-kata.


Seandainya rekan-rekan tak seberuntung saya
mungkin saja tulisan yang dibuat rekan-rekan akarumput.com ini,
'Pesan cinta dari Robin Lim',
masih bisa mewakili ribuan kata yang ingin saya utarakan.


Semoga saja kita masih punya cukup waktu dan kemampuan 
untuk bisa membaca dan meresapinya.
Dan semoga pula masih tersisa hari kita untuk sejenak memberikan dukungan.


Saya doakan rekan-rekan punya dan bisa.


------




(silakan klik Ibu dan bayi membutuhkan kamu atau Vote Robin Lim untuk CNN Hero 2011)