Tampilkan postingan dengan label arsitektur-Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsitektur-Ku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Bangunan Kokoh


Orang-orang Jogja menyenangkan (dan selalu saja menenangkan juga). Hanya saya ragu apakah mereka bisa terus berdiri kokoh menopang nilai-nilai Jogja yang Berhati bikin Nyaman itu. Saya takutnya bangunan-bangunan raksasa baru yang sekarang banyak muncul berdiri di sana jauh lebih kokoh karena ditopang kapital besar, kekuasaan yang selingkuh, dan tentu saja sarjana-sarjana teknik kita yang sudah cukup giat belajar dan sekarang mengharap kerja imbalan besar.

Saya takut Jogja kalah, terpaksa mengikut Jakarta. Kalau nanti begitu, Jogja sama memprihatinkannya dengan Nepal yang baru kena bencana gempa baru-baru ini. Hancur. Hanya saja karena semua tertutupi bangunan-bangunan kokoh, fungsional, dan indah, orang-orang (yang lebih suka melihat permukaan dari balik jendela mobil atau layar-layar digital) berpikir tidak ada masalah. Sama halnya dengan gempa yang disalahkan tiap ada korban jiwa (ya, bukannya selalu ditulis 'korban gempa', bukan 'korban bangunan ringkih yang kebetulan roboh digoyang gempa'?).


Saya bikin komik ini sebagai respon atas diskusi Heteropia dan Ekspresi Artistik soal seni dan penataan arsitektur ruang kota yang manusiawi di PKKH UGM tanggal 23 April 2015 kemarin (ulasan Greg Wuryanto sangat menarik) dan atas obrolan santai sore-malam hari di rumah Yoshi dan Rere. Ini juga respon saya atas pengalaman saya keluyuran siang-siang di kota Yogyakarta yang bikin saya 'berhati gak nyaman'.


*Terima kasih untuk Yoshi dan Rere atas kesempatan ngobrol dan makan malam di rumah baru kalian (yang masih dalam proses penyeselesaian tapi sudah cukup menyenangkan :D ). Juga Gayuh dan Thole yang turut meramaikan obrolan bersama Ai Fukuda, kawan baru dari Jepang, yang kita boyong ke rumah Yoshi dan Rere dengan dikit mengakali aturan Pak Polisi yang selalu menuntut setiap orang bersepeda motor harus memakai helm (pengecualian dirinya :D). Sayang Teddy tidak mengikuti sedari awal.

#gumpnhell #jogjaoradidol #jogjaasat


Selasa, 14 Januari 2014

Peta ke Kandangan



 
#ICVR #ICDS #Kandangan

Selasa, 27 Agustus 2013

KeKunoKiniNanti


#kunokininanti


Senin, 24 Juni 2013

Si Jendral BDS Bali Dalam Video

Saya gak sengaja ketemu video kuliah umum Putu Mahendra di Arsitektur UPH. Apa yang dibicarakan sebetulnya apa yang biasa 'Jendral' Putu sampaikan hampir di tiap kesempatan bicara-kuliah umum, di mana saja. Itu tentang proses kerja di studio Bensley Design Studios Bali. Para prajurit BDS Bali tentu sudah jenuh mendengar cerita yang disampaikan. Tapi saya, dan mungkin para mantan prajurit BDS Bali lainnya, seperti seolah ditarik kembali masuk dalam kisah seperti yang disampaikan Si Jendral.

Terima kasih buat teman-teman UPH yang sudah berbagi video-video ini (sementara video yang saya rekam malah rusak).

Kuliah Umum Keprofesian Putu Mahendra Bensley Studio Part1 

Kuliah Umum Keprofesian Putu Mahendra Bensley Studio Part2

Kuliah Umum Keprofesian Putu Mahendra Bensley Studio Part3

Kuliah Umum Keprofesian Putu Mahendra Bensley Studio Part4

Kuliah Umum Keprofesian Putu Mahendra Bensley Studio Part5

Rasanya seperti sudah bertahun-tahun saya tinggalkan BDS. Padahal baru sekitar 6 bulan lalu.

Sekarang Senin, 26 Juni 2013, jam 5 pagi. Sementara saya mengenang masa-masa deadline gambar tak berkesudahan di BDS, nyata-nyata saat ini sekian gambar menunggu musti saya selesaikan. Kalau dulu di BDS gambar arsitektur, yang sekarang di rumah Semarang gambar ilustrasi.

Enam bulan. Tentu sudah banyak berubah...

 

Senin, 17 Juni 2013

Lennon, Ono, Sagmeister, Hundertwasser, dan KPK



Senin, 08 April 2013

Arsitektur Tanpa Malu

Seringkali arsitektur dijadikan alat poles/make up wibawa ato gengsi pemerintah (dan juga swasta/individu). Arsitek sih seneng2 aja kalo dapet proyek gede, gagah, gigantik, serba heroik. Tapi kalo karya begitu berdiri di tengah kemiskinan rakyat kebanyakan (yg nyata2 ada, rahasia umum, tinggal jalan sedikit aja keluar gedung pasti nemu), wah, rasanya arsitektur demikian kok malah bikin miris.

Senin, 18 Februari 2013

Catatan (Lain) dari Diskusi 'MENGANGKAT NILAI KOTA LAMA MELALUI SKETSA'


Pemandangan yang saya lihat sore ini tak biasa: orang buang air besar di selokan tepi jalan besar, rombongan pemulung berkarung besar, gelandangan-gelandangan tua, orang mengencingi tembok, gubuk kumuh, jalan becek, sampah-sampah, dinding kuno-eksotis-lebih karena tak terawat, lalu anak-anak muda sibuk jepret sana-jepret sini tapi tetap fokus jepretnya ya si anak-anak muda ini (inflasi kamera bikin siapa saja jadi fotografer dan model dalam sekejap) dsb-dsb.

Bukan Main!

Rabu, 26 September 2012

Runtuhnya Plafon Kami



Ini tentang kaum-kaum yang habitatnya bersahabat dengan gunjang-ganjing-naik-turun-gak stabil-penuh dinamika-nyerempet-nyerempet maut. Maksudnya orang-orang yang dunia kerjanya gak monoton-rutin tapi kadang tenang kadang ribut dikejar hantu deadline. Khas kaum kreatif-inovatif-seni(-juga kewartawanan, mahasiswa mungkin iya). Mirip-mirip dunia tentara: Kadang damai, kadang perang. Dan mereka suka bikin perayaan tiap lolos dari deadline. Mirip-mirip dunia tentara: Kalau menang, perang usai, wah perayaannya....

Sulit memang untuk dibayangkan kaum-kaum berhabitat stabil-serba rutin-mapan-pasti-pasti saja hidupnya. Memang ini di luar gambaran kawan-kawan perbankan, atau pegawai negeri yang adem ayem itu, (atau orang kaya baru rangkap politisi yang sudah nyaman duduk di singgasana negeri atas awan yang hari-hari serba tentram baca statistik-statistik kemakmuran entah darimana-bagaimana hitung-hitungnya..)

Untuk itu kami bantu berikan ilustrasi, betapa gila dan gawat juga perayaan-perayaan lepas dari maut deadline.


I
I
I


Kira-kira begitu. Kami publikasikan gambar itu. Tapi rupa-rupanya gambaran tersebut menimbulkan citra yang tidak-tidak seolah-olah kami kaum-kaum tak stabil tapi kreatif-inovatif (yang suka dikejar hantu deadline) gemar perayaan-perayaan kemenangan gaya milisi pemberontak Libya atau rakyat Irak yang pro-sekutu pasca Saddam (atau nanti milisi Suriah pasca Assad) hingga sampai-sampai plafon dunia kerja kami pun runtuh.

Runtuh iya (demikianlah pada Rabu 18 Juli 2012 di markas BDS Bali). Perayaan agak gila iya juga. Tapi ada banyak faktor yang sangat rumit (jadi jangan terlalu cepat ambil kesimpulan, suka prasangka-prasangka) soal runtuhnya plafon kami. Untuk itu kami mencoba bersikap sangat objektip untuk luruskan gambaran-gambaran yang mencong-mencong di kepala kawan-kawan (yang sulit sekali membayangkan dunia yang kami maksudkan).

Salah satu situasi darurat deadline. Tak ada yang senyum.
Kalau deadline akhirnya berakhir. Terlihat ada senyum-senyum. (Wajar)
Ekspresi kebebasan dirayakan dengan makanan. Penuh rasa syukur nikmati jerih payah. (Masih wajar)
Mulai ada yang aneh-aneh: perayaan kebebasan dengan parade tank. (Mulai tak wajar)
Ini sudah berlebih. Merayakan kebebasan pakai bom alih-alih kembang api. (Sangat tak wajar)
Akhirnya: runtuhnya plafon kami. Runtuh tahap awal (sebelum runtuh semua dan malang nasib orang-orang ini).
Orang-orang lenyap. Mungkin tertimpa reruntuhan (kebetulan sekali yang ambil foto ini datang terlambat).


----------------

Tapi, sekali lagi, jangan terlalu cepat ambil kesimpulan tidak-tidak seolah-olah telah terjadi bencana kemanusiaan dengan korban jiwa cukup banyak.
Ternyata semua selamat. Dan untuk itu kembali dilakukan perayaan (kali ini secara wajar sekalian berbuka puasa).
 ----------------

Pelajaran berharga: 
1. Over euphoria can kill you.
2. Jangan cepat-cepat ambil kesimpulan (juga menerima cerita ini mentah-mentah).


Jumat, 04 Mei 2012

Imajinasi Kota Dalam Taman



Imajinasi Kota Dalam Taman ini sesungguhnya hanya ide sederhana.
Ini muncul ketika saya prihatin melihat dus-dus dan kotak makanan yang mau dibuang.
Rasanya sayang betul.
Lalu tiba-tiba saja muncul imajinasi seolah yang saya pandangi bukanlah dus-dus dan kotak-kotak tak berguna tapi sebuah tumpukkan bangunan.

Saya berimajinasi ada banyak dus-dus dan kotak seperti ini yang masih bisa diberi kesempatan tampil di taman.

Saya berimajinasi mereka adalah sekumpulan bangunan.
Mereka didandani layaknya bangunan-bangunan kita yang gemar bersolek.
Menarik juga jika orang-orang tak dikenal, yang malu-malu tapi gemar juga berdandan-dandan, ikut terlibat mendandani dus-dus dan kotak ini
(lumayanlah dapat kenalan baru).

Pada akhirnya dus-dus dan kotak-kotak ini bisa ikut tampil dalam sebuah panggung taman hijau.
Mereka perkenalkan diri sebagai sebuah kota yang padat.
Kota dalam taman.

Kota yang ditata oleh berbagai tangan, dengan bunga-bunga, dan juga cinta.

Lalu bagaimana jika robot, monster, dan berbagai mainan ikut hadir?
Entahlah.
Tapi yg pasti sebuah cerita dan peristiwa bisa terjadi

Entah siapa penulis cerita dan sutradaranya. Entah apa skenarionya.
Siapa penonton, siapa pemain.
Kelihatannya tak jadi soal.
Yang pasti sesuatu akan terjadi dan kita tinggal mengikuti serta merekam.

Mengikuti imajinasi diiringi musisi-musisi.
Merekam dalam pikiran dan alam bawah sadar kita.

Ini hanya salah satu cara merayakan ruang(waktu) terbuka. Merasakan jadi manusia yg manusiawi di kota.

Kira-kira begitu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








(Sampai berjumpa di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar. Minggu sore, 06 Mei 2012, mulai jam 15.00 WITA. Bawalah dus-dus dan kotak yang tak dipakai lagi di sekitarmu. Bawalah juga mainan kesukaanmu. Juga bawa alat musik. Jangan lupa segenap semangat dan imajinasi.)

Jumat, 27 April 2012

Niti Mandala Road

Kami punya ide di suatu hari.
Ide itu untuk Minggu 29 April 2012.
Kami rencanakan mulai jam 15.00.
Ini bertempat di sekitaran Puputan Niti Mandala Renon.
Kami ingin merayakan ruang(waktu) terbuka.
Merasakan jadi manusia yang manusiawi di kota.

Kami akan joging dan jalan santai.
Tentu ada yang akan berfoto ria.
Beberapa bermain sketsa.
Boleh digenapi dengan cat air.
Kami berkarya merespon suasana kota.
Moga-moga bisa jadi peta.

Bila capek maka kami akan berhenti.
Minum ramai-ramai sambil ketawa-ketiwi.
Saat ngobrol ditemani cemilan bikinan sendiri.
Ada buah dan rujak yang bebas diambili.

Mungkin ada yang akan berpuisi-puisi.
Boleh sambil ditemani permainan musisi.
Lalu akan ada rekan yang rekam sana-sini.
Ini bekalnya ke Jepang buat promosi.

Moga-moga ide kami ini jalan.
Tak perlu bangun pagi untuk kegiatan ini.
Silakan saja bergabung ikut meramaikan.

Sampai bertemu di Puputan Niti Mandala Renon.
Sampai bertemu Minggu 29 April 2012.
Jam 15.00 WITA.

Kamis, 08 Desember 2011

(Konflik) CAD Interior Menjenuhkan Di Akhir Tahun


Bagaimana Israel tahu kapan negara-negara tetangganya yang besar-besar itu akan menyerang? Gampang. Israel tinggal mengamati hiruk pikuk di rumah sakit-rumah sakit, toko-toko obat, gudang-gudang makanan, dan dapur-dapur umum negara-negara itu. Mossad (intelijen luar negeri Israel) tak perlu pakai teknologi canggih dan bermahal-mahal. Cukup laporan pandangan mata sederhana dari para pekerja biasa di tempat-tempat itu.

Kira-kira begitu juga yang terjadi di kantor-kantor di negeri ini. Termasuk juga di markas-markas dimana prajurit bersarang. Gampang jika awam ingin tahu kapan pertempuran-gila terakhir berlangsung atau bagaimana suasana batin-tugas di situ. Cukup amati hiruk pikuk benda-benda khas penghuninya. Apa mereka ada pada tempatnya atau tidak. Sebagaimana situasi serba darurat maka segala posisi umumnya serba kacau tak pada tempatnya. Gambaran sama untuk kota-kota kita sejauh ini. Serba darurat. Serba siap perang. Semua kacau. Benda-benda tidak pada tempatnya. Semua itu yang seperti kita tahu.

Cobalah berkunjung ke Markas BDS Bali penghujung akhir tahun ini. Mungkin banyak temuan menarik yang bisa menggambarkan dengan jelas suasana serba darurat siaga perang khas penghujung akhir tahun. Foto hal-hal sederhana berikut, yang diambil minggu pertama Desember 2011, mungkin cukup mewakili tanpa perlu tahu jadwal tugas yang mendekati kegilaan itu. Bahkan mungkin sudah melampaui. 

Sisa makanan

Kamis, 01 Desember 2011

GERILYA

Ini materi untuk Bali Creative Festival 2011.

Senin, 14 November 2011

Hal-Hal Lain Di Sekitar Sanggar Anak Tangguh




Foto-foto berikut menggambarkan suasana  Desa Guwang di Gianyar, Bali. Inilah gambaran paling dekat sekitar Sanggar Anak Tangguh. Tidak sempat memang bermain ke aliran sungai atau menjelajahi hamparan-hamparan sawah. Tapi suasana sepi, bersih, asri, tidak panas di pinggiran jalan meskipun itu siang sekitar jam 3 sudah cukup memuaskan. Sambil minum kopi, sejenak menikmati ketenangan dan lingkungan.

Bermain (Arsitektur) ke Sanggar Anak Tangguh



Arsitek selalu dihujani sekian deadline dan tuntutan gambar. Sibuk tak kenal waktu. Tapi 30 Oktober 2011 Minggu pagi itu berbeda. Tak ada dedline, tak ada tuntutan gambar. Baru saja semua selesai pada malam beberapa jam sebelumnya.

Pagi itu pukul 09.30 Rizeki Raharja, Cok Gung Pamanayogi, dan Hadi Pramana sudah berkumpul di markas Bensley Design Studios Bali di Sanur. Sementara saya, tuan rumah, baru bangun dan baru menyusul 30 menit kemudian setelah ngebut bersepeda  di tengah cuaca yang suram-mendung. Cok Gung sudah siap dengan materi dan peralatannya. Hadi Pramana siap dengan sapaan-sapaan kanak-kanaknya. Rizeki selalu siap dengan senyuman dan sekian cerita entah kemana-mana. Dan saya masih harus menyadarkan diri bahwa kami akan mengunjungi Sanggar Anak Tangguh dan bermain arsitektur bersama anak-anak sanggar itu. Mas Adi, begitu kami memanggil Komang Adiartha, sudah lama dan berulang kali mengundang kami untuk bermain bersama anak-anak sekolah alternatif asuhannya. Bermain tentang apa itu arsitektur.

Selasa, 25 Oktober 2011

Gempa 6,8 SR dan Markas BDS


Gempa 6,8 SR Bali 13 Oktober 2011 bikin hati heboh.
Makin heboh lagi dengan bagaimana orang-orang Jakarta memberitakannya.
Saya sendiri tahu soal gempa heboh 6.8 SR ini dari televisi-televisi yang berpusat di Jakarta semua.
Maklum, saat itu masih di tempat tidur di kost dan masih berpikir cuma kepala sendiri yang goyang-goyang pasca heboh deadline pagi dinihari sebelumnya.
Tapi ternyata, sebagaimana orang-orang Jakarta menceritakannya, memang baru terjadi gempa yang cukup hebat, dan heboh!
Tingkat kehebohannya bisa diukur dari berapa lama 'breaking news' mengudara dan berapa banyak materi berita diulang-ulang (ini tentu untuk menguatkan betapa patut hebohnya suasana saat itu).
Bisa pula diukur dari seberapa banyak deringan panggilan menghampiri perangkat-perangkat canggih yang senantiasa mendampingi masing-masing manusia.
Kalau gempa beginian terjadi di rimba raya Papua mungkin lain cerita dari si Jakarta.


Tapi bayangan saya adalah bagaimana teman-teman di Markas BDS Bali.
Mereka prajurit-prajurit yang sudah terlatih dengan segala heboh-heboh beginian.
Gonjang-ganjing 6,8 SR mungkin tidak ada apa-apanya dibanding gonjang-ganjing revisi-revisi tugas yang tak pernah bisa diprediksi sebagaimana gempa yang tak bisa diramal, secanggih apapun perangkat teknologi inovasi Steve Job.
Saya yakin saat gempa semua kegiatan garis depan tetap berjalan.
Tak ada deadline ditunda. 
Tak ada lama-lama penyelamatan diri.
Bahkan makin banyak inspirasi-inspirasi baru.
Makin banyak revisi-revisi baru (pula).


(karena tak hadir saat gempa 6,8 SR dan tak ada jejak dokumentasi maka mungkin kira-kira situasi markas saat peristiwa seperti gambar berikut ini)




Mungkin perlu kita menyimak kata-kata bijak berikut (entah nyambung atau tidak, tapi kata-kata ini memang bijak!):


"Seorang arsitek yang baik tidak boleh ribut dan kacau dalam jiwanya. Ia harus mau meditasi, menghening agar refleksi ilham yang benar dapat tercermin hening."

- YB Mangunwijaya -


Meditasi, menghening, bahkan dalam kehebohan gempa.
........................................................

Sabtu, 22 Oktober 2011

Suatu Ketika Berjalan Kaki Ke Markas


Ini suatu hari yang agak berbeda di Sanur. Sabtu, 08 Oktober 2011.
Biasanya berangkat ke markas BDS (Bensley Design Studios) Bali menggunakan sepeda (markas? mungkin awam lebih senang menyebut kantor. Kalau yang ngakunya arsitek menyebut sebagai studio)  
Tapi kali ini terpaksa ke markas tanpa sepeda karena si sepeda musti turun mesin di depot perbaikan (sebagai dampak eksploitasi berlebih tanpa memeliharanya).

Dalam situasi tanpa sepeda begini maka keputusan paling logis adalah ikut numpang kendaraan teman untuk ke markas. Tapi ke markas di hari Sabtu untuk urusan rutin adalah menjemukan (ini harusnya hari bersenang-senang dengan waktu luang!). Maka keputusan logis dari masukkan variabel data beginian adalah: Jalan Kaki!
Makin lambat sampai tujuan makin baik.

Terasa sekali perbedaan perjalanan antara naik mobil, motor, sepeda, dan jalan kaki. Selain memang soal waktu tempuh dan kalori yang digunakan adalah soal bagaimana melihat sesuatu diperjalanan. Dengan berjalan kaki segala sesuatu jadi terlihat lebih akrab. Seolah dunia jadi berbeda warnanya. Dan seandainya teman-teman waktu itu ikut berjalan bersama maka mungkin juga akan melihat warna-warna berbeda itu. Dan kalaupun tidak, kiranya foto-foto ini bisa menggambarkan apa yang saya lihat selama perjalanan.

Tidak seluruh perjalanan. 
Hanya setengah terakhir saja. 
Ini Sabtu, 08 Oktober 2011.

Menuju jalan Tunjungsari dari jalan Batursari dengan penanda arah Cafe Tunjung Biru (01).

Senin, 17 Oktober 2011

Gak Ada Embel-Embel Arsitektur





Saya tulis status fesbuk malam minggu saya: 
Ada acara 70 Tahun Sunaryono Basuki Ks: Peluncuran dan Bedah Buku "Antara Jimbaran dan Lovina".
Hari Minggu, 16 Oktober 2011  jam 11 di Danes Art Veranda. 
Saya tulis pula sebuah harapan sebagai penutupnya:
Semoga saja teman-teman diberi kesempatan menghadiri.


...................

Seorang teman bertanya apa ini acara arsitek. 
Wah, saya jawab bukan. 
Saya bilang gitu karena gak ada tuh embel-embel berbau arsitektur. 
Bahkan, saya menebak, ini lebih ke kebudayaan & sastra. 
Lalu teman saya dengan mantap mengajukan pertanyaan kritis: lalu buat apa arsitek datang? Wah, bingung saya jawab pertanyaan cerdas-kritis model beginian. 
Saya jawab ngawur: Lha ini biar seirama dengan pak dosen arsitek yang baru dipilih jadi wakil mentri pendidikan yang bidangi urusan kebudayaan. 
Biar lebih meyakinkan saya bilang si pak mentri dari arsitek itu kan juga seirama dengan presiden pertama kita. Ya kita ngikut juga donk musti paham hal-hal begituan. 
Lalu teman saya sekali lagi praktekkan semangat ala filsuf yang gemar bertanya sangat kritis: apa ini bermanfaat untuk hadapi bos kita & segenap deadline? 
Kalo tidak, gitu kata temen saya, jelas ini tidak praktis & menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat yang sudah beruntung dikasih kesempatan menjalaninya.
Wah, memang benar sekali ini teman saya. 
Heran betul saya kenapa dia gak jadi filsuf aja.


(Tidak hanya filsuf. Teman saya ini berbakat pula jadi detektif. 
Bilang gini dia di akhir dialog: 
Ah, kau paling datang buat numpang makan siang gratis.)



Selasa, 04 Oktober 2011

Lempar Ke Bali!

Suatu ketentaraan yang baik adalah juga yang selalu siap & terbiasa bekerja sama dalam sebuah tim. Kerjasama jarak pendek, jarak menengah, jarak jauh, baik hanya berpasangan dalam komposisi keahlian yang sama maupun yang super-rumit operasi gabungan antar angkatan antar negara.

Nah, kira-kira perihal model begituan berlaku juga untuk dunia prajurit Kompi BDS Bali. 
Tidak hanya dilatih kerjasama jarak pendek (rentang 2 meteran dengan hanya temen semeja) maupun jarak menengah (rentang kurang dari 100 meter, melibatkan 1 komplek berkapasitas 54 personil), tapi, ini yang hebat, jarak jauh lintas negara (rentang diatas 100 kilometer!) secara simultan tiap waktu (maksudnya gak kenal waktu: semua hari adalah Senin pagi yang cerah penuh semangat!).

Dalam dua bulan terakhir rutin sekali operasi-operasi gabungan model begituan dengan rekan-rekan dari markas pusat BDS di Bangkok. Operasi-operasi tersebut berlangsung dengan baik sebagaimana sudah dilatihkan kepada prajurit BDS Bali: menyelesaikan hal-hal yang tak mungkin dengan se-WOW mungkin.

Dan itulah lagi-lagi yang bikin prajurit Kompi BDS Bali disegani, bahkan oleh rekan-rekan sendiri dari markas pusat berkekuatan 100 personil itu. Jika mereka tak mampu Prajurit Kompi BDS Bali siap membantu. Jenderal di sana tinggal teriak: LEMPAR KE BALI!

(Sayang tak bisa berlaku sebaliknya: LEMPAR KE BANGKOK! Namanya juga jalur komando ketentaraan.Ini rumit sekali)



Jumat, 05 Agustus 2011

Jangan Hakimi Sampul Buku



(Prajurit BDS memang penuh insprasi, terutama jelang deadline. Ide sebulan yang lalu.)



Sabtu, 23 Juli 2011

‎"Tahu Imam Prasodjo?"

Saya bertanya kepada teman-teman.
Tidak ada yang tahu.
Maklum, bertanyanya kepada teman-teman arsitektur.


Imam Prasodjo bukan arsitek.
Dia sosiolog.
Tapi dia bisa mengubah wajah hitam kota menjadi lebih cerah.