Rabu, 16 Februari 2011

Sastra-Komik Simon Hureau




Pada tanggal 14 hingga 19 Februari 2011 berlangsung 
pameran kartun dan komik Simon Hureau.
Pameran berlangsung di Alliance Francaise, Denpasar.
Kegiatan acara terdiri dari pameran karya, diskusi pada pembukaan pameran, 
dan workshop pada tanggal 15 hingga 17 Februari.
Melalui dua orang teman saya dapat undangan internet 
pameran karya seniman Perancis ini.


Beberapa hal keingintahuan muncul akan acara ini.
Pertama, keingintahuan tentang komik 'gaya' Perancis.
Maklum bahwa Indonesia sudah terlalu dekat 
dengan komik gaya Jepang dan pula Amerika (walau sedikit).
Kedua, keingintahuan tentang 'sastra-komik' yang tertera pada poster undangannya.
Apa itu 'sastra-komik' yang membedakannya dengan 
komik-komik lainnya di sekitar kita?
Ketiga, keingintahuan tentang si seniman.


Dengan dasar itu, di tengah-tengah lembur deadline 
saya menyempatkan diri menghadiri acara itu, 
utamanya untuk diskusi di pembukaan pameran jam 7 malam.
Beruntung bahwa sesi diskusi belum dimulai 
ketika saya baru sampai meskipun sudah 30 menit berlalu dari jadwal.
Pameran yang terbilang sederhana ini pun 
ternyata dibuka tanpa 'pembukaan' dan diisi tanpa diskusi 'formal'.
Semua berlangsung cair dan bebas.
Pengunjung bisa langsung menikmati karya dan bertanya atau berdiskusi langsung dengan sang seniman dalam bahasa Perancis (kalau bisa) dan Inggris, 
ataupun boleh bahasa Indonesia dengan bantuan penerjemah direktris Alliance Francaise Denpasar, Audrey Lamou.


Kesederhanaan pameran tidak mengurangi rasa apresiasi.
Isi karya pada lembaran-lembaran kertas yang langsung 
ditempel begitu saja tanpa bingkai di dinding lebih menarik perhatian.
Karya-karya ini cenderung padat tulisan, 
tidak berplot rapi maupun beralur cerita umum, 
sebagian besar karya lebih cenderung deskripsi sesuatu 
khususnya lingkungan selama perjalanan, 
dan yang menjadi kekuatan selanjutnya 
adalah pada goresan yang dinamis serta spontan.


Gambar dibuat tanpa bantuan penggaris 
dan mungkin cukup bantuan sketsa pensil sebelum ditumpuk tinta.
Sayang bahasa menjadi kendala dalam memahami kartun dan komik ini.
Namun masih bisa dipahami melalui bahasa gambar yang cukup detail.


Yang menarik bagi saya, mungkin juga pengunjung lain, 
adalah buku sketsa perjalanan (mungkin lebih tepat sebagai diari bergambar) 
yang berisi rekaman visual akan tempat-tempat yang pernah dikunjungi.
Tampaklah di situ semisal suasana pingir jalan kota Jogjakarta, 
lingkungan alam Bali, hingga gambaran kamar menginap.
Di lembaran itu selain tertuang goresan-goresan pensil, tinta cat air, 
juga terdapat tempelan-tempelan kertas iklan, kemasan produk, dan tanaman.
Paling mengagetkan adalah tempelan hewan-hewan mati 
seperti kupu-kupu, cicak, kecoa, ular, tikus, 
dan sebagainya yang mungkin ditemuinya sepanjang perjalanan.
Entah bagaimana proses awal keberadaan hewan-hewan tersebut di situ.
Semua sudah menyatu, terawetkan bersama buku itu.


Melihat ketekunan, keterampilan, dan keunikan melalui karya-karya itu 
tidak heran jika para Kritikus di Perancis mengakui Simon 
sebagai salah satu ahli komik terbaik di zamannya. 
Kehebatannya bisa dilihat melalui karya-karyanya yang berjudul 'Office Extensions', 
'Empire Of High Walls', atau 'Everything Must Go'.
Baru-baru ini Simon berpartisipasi dalam proyek kolektif 
seperti 'Under The Sign of Dolphin', buku anak-anak, 
dan 'Suburbs Nomadic', buku perjalanan kerja yang didedikasikan untuk Paris.


Simon Hureau berangkat dari lulusan ilmu alam, 
memilih hukum dan fine art 
sebelum akhirnya mendaftar di Sekolah Tinggi Seni Dekoratif jurusan ilustrasi.
Tahun 2004, Dove dan perusahaan sejenis mengakui bakat 
dan kemampuannya hingga menjadi seperti sekarang.
Simon Hureau telah memilih jalannya. 


Sebelum saya pulang memilih jalan saya sendiri 
Simon sempat membubuhkan tanda tangan 
dan usapan tinta pada bukunya yang saya beli.
Sebuah oleh-oleh yang akan saya ceritakan pada kawan-kawan yang lemburan.


----------------------
Rekaman visual lingkungan sekitar.
Ini tikus asli yang sudah mati!
Entah apakah tidak bau membawa ini ke mana-mana



Suasana pameran di Alliance Francaise:



Simon Hureau menandatangani dan mewarnai bukunya yang dibeli.

I
I
I

*Sebagian informasi diperoleh melalui Al'affiche, buletin Alliance Francaise Denpasar edisi Januari-Februari 2011

Selasa, 15 Februari 2011

Ini Bukan Tentang Valentine


"Apa bedanya sosialisme dan komunisme?"

Seorang teman berjiwa gembira bertanya kepada saya si tukang melamun 
sekitar pertengahan 2010.
kaget juga, pertanyaan kritis-menelisik keluar dari seorang penceria sementara saya yang perenung penggemar sospolbudhankam justru tak pernah merenungkan hal itu.


------------------------

Mungkin penjaga kasir swalayan keheranan melihat saya berbelanja:

"Gila, ini orang kurus kecil rakus sekali.
Beli logistik makanan banyak banget.
Pagi beli, malem beli, besok beli, lusa beli lagi."

Ah... 

Itu penjaga tidak tahu nasib saya tukang lembur.
Ini logistik makanan begitu berarti 

dalam menemani hari-hari panjang penuh kerjaan.
Mulut dan perut saya wajib ikut bekerja agar solider dengan mata, otak,
dan tangan yang diperas untuk 'stan-by & Go!' sepanjang waktu.

(Itu kira-kira jawaban otak saya dalam diam)

Begitu pula kawan-kawan senasib di garis depan
yang juga butuh solidaritas antara divisi pencernaan 

dengan divisi pemikiran dan tindakan.
Logistik makanan ini menjadi bagian dari gerakan solidaritas senasib.
Saling berbagi makanan antar teman-teman yang bernasib harus lembur.


Selagi lembur tersempatkanlah saya membaca tulisan Arief Budiman.
Tulisan tentang sosialisme.
(Tentu sempat. Ngesave kerjaan bisa selama baca artikel dua halaman A5)

Kira-kira pikiran saya membaca:

Sosialisme itu bukan melulu komunisme.
Sosialisme juga bukan harus Marxis semua.
Juga bukan tentang ditaktor sebagaimana Castro, Soekarno, Chaves, dsb.
Tapi ternyata sejak Yunani kuno sosialisme itu sudah ada,
selalu diusahakan oleh para pemikir-arif bijaksana kemasyarakatan Yunani.

Dan yang menarik: 

Dalam sosialisme, imbalan material bukan menjadi tujuan utama 
tetapi martabat sebagai manusia yang membantu orang-orang disekitarnya.
Sosialisme sebagai cita-cita bahkan menjadi inti dari semua agama besar di dunia.
(Agama mana yang tidak mencita-citakan kebersamaan, kemanusiaan, dan keadilan (selain jualan surga!)?)




Dalam kasus saya (dan juga teman-teman) berbagi makanan di garis depan bisa dikatakan sebagai sosialisme.
Dan karena dilakukan atas inisiatif individu maka disebut sosialisme individual.
Persis sebagaimana tolong menolong antar tetangga 

yang selama ini sudah berlangsung.
(apa sudah punah di kota-kota kita?)

Memang sosialisme bisa memicu 'kemalasan'.

Setiap orang mendapat sama dengan yang lain tanpa berusaha.
Orang bisa makan tanpa perlu susah payah membeli 

dan tak perlu susah-susah cari uang karena toh pasti dapat.
Dan ide kapitalis pun jadi layak masuk, diterima akal.

"Jual ke teman-temanmu, keuntungan dikumpulkan, beli lebih banyak lagi, jual lebih banyak lagi, untung lebih banyak lagi",
gitu kira-kira saran kawan rasional dari awang-awang.

Tapi rasanya, sekali lagi ini rasanya, kejam sekali berkapitalis makanan
dalam situasi darurat garis depan beginian.
Apalagi melihat begitu pucatnya wajah teman-teman senasib di garis depan
yang terisolir dari pusat logistik dan keramaian malam hari.
kapitalisme bisa membuat wajah teman makin pucat
sementara saya makin cerah menghitung untung jualan 

plus surplus upah lemburan.


Dalam alam pikiran saya kapitalisme wajar dalam upaya apresiasi prestasi.

(Bahkan kapitalisme makin wajar ketika dilengkapi 'Welfare State' 
yang mengoreksi sisi kejam 'gila' liberal.)
Namun perlu kata kunci 'cukup' dalam diri
Sebagaimana kata-kata arsitek Adi Purnomo:

"Cukup adalah cukup"

Surplus upah lemburan haruslah cukup untuk kebutuhan sebulan.
Biarlah surlus logistik makanan cukup sebagai solidaritas, 

tak perlu jadi komoditas.

"Bumi cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan, tapi tidak akan cukup untuk keserakahan."
Begitu kan lontaran filosofis Mahatma Gandhi?

-------------------------------

"Bung, pikiran dan tindakan berbagi ini amat mulia, gimana kalo kita terapkan jadi sistem dalam lingkungan garis depan ini, menjadi tatanan masyarakat?"

"Maksudnya?"

"ya, semua yang punya makanan musti membagi dengan rekannya, gak ada milik pribadi ekslusif, semua milik bersama, sama rasa, sama rata, disistemkan, diMarxiskan!
Dunia yang lebih adil kan?"

Lagi-lagi kawan rasional sungguh cerdas mengkalkulasi.

Dan sekali lagi saya kurang sependapat.

Sesuatu yang diwajibkan rasanya 'kurang elok',
tidak lebih elok daripada inisiatif dan kesadaran diri.
Lagipula adil bukan berarti setiap orang dapat satu, serba pukul rata.
Tapi proporsional dan kontekstual berdasar keunikan.
Masyarakat kota di Jawa tentu tak bisa 'dipukul rata' dengan Papua.
Harus melihat apa yang telah dikorbankannya untuk mencapai/menghasilkan sesuatu.

(seharusnya orang-orang di Papua mendapat lebih dari di Jawa melihat tantangan geografis dan alam).


"Sebentar, lalu caranya gimana?"

Itulah susahnya.
Butuh pendalaman masalah.
Tapi perlu diperjelas bahwa cara-cara keras, ditaktorial,
sistem-sistem kaku, paksa-paksaan sepatutnya tidak perlu muncul.
Sayang memang jika akhirnya 'sistem mesin' (dingin-kaku-keras-ketat) 

menggantikan cara-cara manusiawi,
menggantikan hubungan saling percaya antar manusia.

Semua bergerak berdasar sistem kepastian,
hubungan manusia menjadi hubungan kode matematika benar salah.

(payahnya manusia suka menggadaikan aset kepercayaan itu. 

Mungkin karena mahal harganya!)

Dalam situasi begini saya hanya bisa berandai-andai:
Yang berkelebihan materi mau berbagi materi.
Yang surplus tenaga mau menyumbang tenaga.
Yang kuat mau melindungi yang lemah.
Yang berpengetahuan mau menyebar pengetahuannya.
Yang berwaktu mau meluangkan perhatian untuk sesamanya.

Tak ada sekat, tak ada jurang lebar..
Semua dengan senang hati berlandas niat baik dalam diri...

(Indah memang...

Sebagaimana 'Imagine'-nya John Lennon)

----------------------------------------------------

"Bung, penjelasan anda muter ke mana-mana.
Panjang, lebar, ngalor, ngidul, nggak jelas kayak tampangmu.
Sebenarnya apa sih bedanya sosialisme dan komunisme?"

"Haduh,.. saya gak punya waktu untuk jelasinnya.
Baca sendiri aja deh uraian Arief Budiman dalam 

'Pergulatan Intelektual Dalam Era Kegelisahan'.
Mudah dimengerti kok.
Daah,.. musti lembur lagi nih."

"?"

"Oh ya, met valentine!
Jangan cuma berbagi untuk pasanganmu aja lho"

"??"


I
I


Kalo ada yang ngotot tanya, jawab aja:
Sosialisme itu lebih lunak, Komunisme lebih keras. 
Itu perbedaan pada proses mencapai, tapi tujuannya sama.

Sabtu, 12 Februari 2011

Malam Jelang 13 Februari 2011


Wuih... nyaris malam minggu ini pulang pagi dini hari lagi dengan sepeda melewati sawah dan sapi-sapi. 
Tapi Kapten Operasi Kemang Podium berkata:


"Prajurit, malem ini kalian gak usah lembur.
Biar saya hadapi sendiri dulu perintah terbaru ini. 
Kalian nikmati saja malem minggu ini di garis belakang. 
Persiapkan mental kalian untuk pertempuran non-stop hingga tanggal 16 Februari."


"Siaapppp Kapten!!!"



Dan beberapa jam lalu seorang anggota tim Operasi Kemang Podium berjiwa sosialis menghubungi:

"Prajurit Errik! Posisi masih di garis depan? Apa yang bisa dibantu?"

"Ah prajurit Ivann, tak ada yang perlu dibantu malem ini. 

Kita mundur ke garis belakang menikmati kebebasan malam minggu meski sendirian."

"Lha katanya begadang lembur?"

"Ah prajurit Ivann, malem minggu ini kesempatan begadang lembur bersama Beatles, White Shoes, Sore, REM, King Of Konvenience 
serta sahabat baru Edward Sharpe and The Magnetic Zeros, untuk hal2 yang selain di garis depan"

"?"

"Sejak kemaren koran menganggur belom dibaca, 
buku2 pada sewot gak dikutak-katik, ide-ide terus mengantri untuk dieksekusi menjadi kartun-komik propaganda, juga otak begitu haus ingin melihat apa yang terjadi di dunia luar sana, tuh Mesir ama Temanggung misalnya."

"??"

"Nah itu para sahabat akan menemani sampe pagi dalam kesendirian ala kabin kapal selam pecah menyelesaikan antrian soal-soal."

"Gak mudeng.."

"Udah,.. besok pagi kita bertugas kembali ke garis depan. Persiapkan mental dan logistik karena selanjutnya dari Operasi Kemang Podium kita akan terus bertempur untuk operasi lain hingga tanggal 23 Februari. Prajurit Ivann, persiapkan dirimu!"

"Ooo pantes Kapten Kemang Podium memberi kita izin."

"Ya, begitulah prajurit...."

Kamis, 03 Februari 2011

Tim Yang Efisien


I
I
I


"Masyarakat di kota besar terus-menerus didera beban pekerjaan dan target. Itu membuat mereka selalu dihitung dari sisi produktivitasnya, sementara personalitasnya sebagai manusia tenggelam. Warga kota larut dalam berbagai hiruk-pikuk setiap hari, tetapi asing satu sama lain, bahkan asing terhadap diri sendiri."


- F Budi Hardiman, Pengamat sosial dan pengajar filsafat STF Driyarkara -
(sebagaimana dimuat dalam Kompas)