Jumat, 21 Oktober 2011

Ride on Time [Good Luck END]


Good Luck, salah satu serial terbaik Jepang. 
Ia menggambarkan bagaimana etos kerja Jepang pada dunia yang sarat dengan pelayanan, teknologi, dan keselamatan tinggi tanpa kehilangan unsur drama manusia. 
Bangsa kita perlu buat serial beginian. 
Sangat strategis. 
Garuda bisa kerjasama dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ristek, serta didukung Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN). Juga tentu pemda-pemda yang akan terkait.



(coba nikmati lagu indah Ride On Time karya musisi ternama Jepang, Tatsuro Yamashita, lengkap dengan klip yang menimbulkan rasa kagum akan penerbangannya)

Selasa, 18 Oktober 2011

Soal Bio Gas




Ada sebuah bangsa yang menggunakan kotoran manusia untuk memupuki kebunnya. 
Kotoran manusia ini bahkan diperjualbelikan di pasar. 
Ini tradisi dan benar-benar dianggap barang berharga.
Memang terasa menjijikkan dan terbelakang bangsa model beginian (apalagi ditambah kebiasaan jarang mandi) bagi kita.
Itulah Korea tahun 50-an. Ya Utara, ya Selatan.

Itulah hal menarik sekali yang saya baca dari buku Catatan Perang Korea karya Mochtar Lubis. Memang tepatlah dia satu-satunya jurnalis republik ini yang diundang ke sana tahun itu.

Dan mari benar-benar kembali obrolkan hal-hal sekarang.
Ini tentang Obrolan Rabu Malam (OBRAL) 28 September 2011.
Ini tentang "Green! Lifestyle atau Way of Life?"

Senin, 17 Oktober 2011

Gak Ada Embel-Embel Arsitektur





Saya tulis status fesbuk malam minggu saya: 
Ada acara 70 Tahun Sunaryono Basuki Ks: Peluncuran dan Bedah Buku "Antara Jimbaran dan Lovina".
Hari Minggu, 16 Oktober 2011  jam 11 di Danes Art Veranda. 
Saya tulis pula sebuah harapan sebagai penutupnya:
Semoga saja teman-teman diberi kesempatan menghadiri.


...................

Seorang teman bertanya apa ini acara arsitek. 
Wah, saya jawab bukan. 
Saya bilang gitu karena gak ada tuh embel-embel berbau arsitektur. 
Bahkan, saya menebak, ini lebih ke kebudayaan & sastra. 
Lalu teman saya dengan mantap mengajukan pertanyaan kritis: lalu buat apa arsitek datang? Wah, bingung saya jawab pertanyaan cerdas-kritis model beginian. 
Saya jawab ngawur: Lha ini biar seirama dengan pak dosen arsitek yang baru dipilih jadi wakil mentri pendidikan yang bidangi urusan kebudayaan. 
Biar lebih meyakinkan saya bilang si pak mentri dari arsitek itu kan juga seirama dengan presiden pertama kita. Ya kita ngikut juga donk musti paham hal-hal begituan. 
Lalu teman saya sekali lagi praktekkan semangat ala filsuf yang gemar bertanya sangat kritis: apa ini bermanfaat untuk hadapi bos kita & segenap deadline? 
Kalo tidak, gitu kata temen saya, jelas ini tidak praktis & menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat yang sudah beruntung dikasih kesempatan menjalaninya.
Wah, memang benar sekali ini teman saya. 
Heran betul saya kenapa dia gak jadi filsuf aja.


(Tidak hanya filsuf. Teman saya ini berbakat pula jadi detektif. 
Bilang gini dia di akhir dialog: 
Ah, kau paling datang buat numpang makan siang gratis.)



Rabu, 05 Oktober 2011

Merenungkan (Lagi) Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010


Kalau bangsa bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya kenapa kita tidak? Kenapa tidak? Coba pikirkan !

1. Kekayaan alam kita yang sudah digali dan yang belum digali, adalah melimpah-limpah.

2. Tenaga kerjapun melimpah-limpah, di mana kita berjiwa 100 juta manusia.... ...

3. Rakyat indonesia sangat rajin, dan memiliki ketrampilan yang sangat besar, Ini diakui oleh semua orang di luar negeri.

4. Rakyat memiliki jiwa Gotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan Funds and forces.

5. Ambisi daya cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi di bidang politik tinggi, di bidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi, tentunya juga di bidang ekonomi dan perdagangan.

6. Tradisi Bangsa lndonesia bukan tradisi, "tempe". Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.

[Pidato HUT Proklamasi, 1963]*

(*googling aja)