Senin, 17 Oktober 2011

Gak Ada Embel-Embel Arsitektur





Saya tulis status fesbuk malam minggu saya: 
Ada acara 70 Tahun Sunaryono Basuki Ks: Peluncuran dan Bedah Buku "Antara Jimbaran dan Lovina".
Hari Minggu, 16 Oktober 2011  jam 11 di Danes Art Veranda. 
Saya tulis pula sebuah harapan sebagai penutupnya:
Semoga saja teman-teman diberi kesempatan menghadiri.


...................

Seorang teman bertanya apa ini acara arsitek. 
Wah, saya jawab bukan. 
Saya bilang gitu karena gak ada tuh embel-embel berbau arsitektur. 
Bahkan, saya menebak, ini lebih ke kebudayaan & sastra. 
Lalu teman saya dengan mantap mengajukan pertanyaan kritis: lalu buat apa arsitek datang? Wah, bingung saya jawab pertanyaan cerdas-kritis model beginian. 
Saya jawab ngawur: Lha ini biar seirama dengan pak dosen arsitek yang baru dipilih jadi wakil mentri pendidikan yang bidangi urusan kebudayaan. 
Biar lebih meyakinkan saya bilang si pak mentri dari arsitek itu kan juga seirama dengan presiden pertama kita. Ya kita ngikut juga donk musti paham hal-hal begituan. 
Lalu teman saya sekali lagi praktekkan semangat ala filsuf yang gemar bertanya sangat kritis: apa ini bermanfaat untuk hadapi bos kita & segenap deadline? 
Kalo tidak, gitu kata temen saya, jelas ini tidak praktis & menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat yang sudah beruntung dikasih kesempatan menjalaninya.
Wah, memang benar sekali ini teman saya. 
Heran betul saya kenapa dia gak jadi filsuf aja.


(Tidak hanya filsuf. Teman saya ini berbakat pula jadi detektif. 
Bilang gini dia di akhir dialog: 
Ah, kau paling datang buat numpang makan siang gratis.)



Rabu, 05 Oktober 2011

Merenungkan (Lagi) Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010


Kalau bangsa bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya kenapa kita tidak? Kenapa tidak? Coba pikirkan !

1. Kekayaan alam kita yang sudah digali dan yang belum digali, adalah melimpah-limpah.

2. Tenaga kerjapun melimpah-limpah, di mana kita berjiwa 100 juta manusia.... ...

3. Rakyat indonesia sangat rajin, dan memiliki ketrampilan yang sangat besar, Ini diakui oleh semua orang di luar negeri.

4. Rakyat memiliki jiwa Gotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan Funds and forces.

5. Ambisi daya cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi di bidang politik tinggi, di bidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi, tentunya juga di bidang ekonomi dan perdagangan.

6. Tradisi Bangsa lndonesia bukan tradisi, "tempe". Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.

[Pidato HUT Proklamasi, 1963]*

(*googling aja)


Selasa, 04 Oktober 2011

Lempar Ke Bali!

Suatu ketentaraan yang baik adalah juga yang selalu siap & terbiasa bekerja sama dalam sebuah tim. Kerjasama jarak pendek, jarak menengah, jarak jauh, baik hanya berpasangan dalam komposisi keahlian yang sama maupun yang super-rumit operasi gabungan antar angkatan antar negara.

Nah, kira-kira perihal model begituan berlaku juga untuk dunia prajurit Kompi BDS Bali. 
Tidak hanya dilatih kerjasama jarak pendek (rentang 2 meteran dengan hanya temen semeja) maupun jarak menengah (rentang kurang dari 100 meter, melibatkan 1 komplek berkapasitas 54 personil), tapi, ini yang hebat, jarak jauh lintas negara (rentang diatas 100 kilometer!) secara simultan tiap waktu (maksudnya gak kenal waktu: semua hari adalah Senin pagi yang cerah penuh semangat!).

Dalam dua bulan terakhir rutin sekali operasi-operasi gabungan model begituan dengan rekan-rekan dari markas pusat BDS di Bangkok. Operasi-operasi tersebut berlangsung dengan baik sebagaimana sudah dilatihkan kepada prajurit BDS Bali: menyelesaikan hal-hal yang tak mungkin dengan se-WOW mungkin.

Dan itulah lagi-lagi yang bikin prajurit Kompi BDS Bali disegani, bahkan oleh rekan-rekan sendiri dari markas pusat berkekuatan 100 personil itu. Jika mereka tak mampu Prajurit Kompi BDS Bali siap membantu. Jenderal di sana tinggal teriak: LEMPAR KE BALI!

(Sayang tak bisa berlaku sebaliknya: LEMPAR KE BANGKOK! Namanya juga jalur komando ketentaraan.Ini rumit sekali)



Sabtu, 01 Oktober 2011

Berpikir KomprehenSipp!



"Coba renungkan kawan, nampaknya pelajar-pelajar kita awal abad 20 jauh lebih intelektuil dibanding pelajar-pelajar masa kini"


"Maksud kau?"


"Lho, begini. Mereka-mereka yang sekolah terutama sampai sarjana, yah boleh jugalah selevel SMA, atau mungkin juga SMP gak apa-apa, kalo SD tak yakin aku, hebat betul cara berpikirnya. Terkonkretkan jelas pada aktivitas-aktivitasnya yang terekam pada lembar-lembar sejarah pancaran mental intelektuilnya."


"Bung, tetap tak jelas maksud kau."