Senin, 14 November 2011

Bermain (Arsitektur) ke Sanggar Anak Tangguh



Arsitek selalu dihujani sekian deadline dan tuntutan gambar. Sibuk tak kenal waktu. Tapi 30 Oktober 2011 Minggu pagi itu berbeda. Tak ada dedline, tak ada tuntutan gambar. Baru saja semua selesai pada malam beberapa jam sebelumnya.

Pagi itu pukul 09.30 Rizeki Raharja, Cok Gung Pamanayogi, dan Hadi Pramana sudah berkumpul di markas Bensley Design Studios Bali di Sanur. Sementara saya, tuan rumah, baru bangun dan baru menyusul 30 menit kemudian setelah ngebut bersepeda  di tengah cuaca yang suram-mendung. Cok Gung sudah siap dengan materi dan peralatannya. Hadi Pramana siap dengan sapaan-sapaan kanak-kanaknya. Rizeki selalu siap dengan senyuman dan sekian cerita entah kemana-mana. Dan saya masih harus menyadarkan diri bahwa kami akan mengunjungi Sanggar Anak Tangguh dan bermain arsitektur bersama anak-anak sanggar itu. Mas Adi, begitu kami memanggil Komang Adiartha, sudah lama dan berulang kali mengundang kami untuk bermain bersama anak-anak sekolah alternatif asuhannya. Bermain tentang apa itu arsitektur.

Sabtu, 05 November 2011

Vote Robin Lim For CNN Hero 2011


Di saat kita ramai-ramai mempeributkan sesuatu yang remeh temeh
dan juga di tengah ramai-ramai berita tentang keterpurukkan negeri ini
ada beberapa sosok yang terus bergerak,
senyap dalam sepi,
berbuat sesuatu untuk sesamanya yang membutuhkan.


Sosok-sosok ini bergerak karena dorongan hati.
Tulus, sungguh-sungguh, mengalir wajar, tak berharap gegap gempita.
Kesungguhannya bisa diukur dari waktu,
dari seberapa lama ia telah abdikan dirinya.
Mungkin pula dari pengorbanan
yang tak semuanya bisa diukur dengan matematika.


Ada banyak sesungguhnya sosok-sosok seperti ini.
Salah satunya saja Ibu Robin Lim,
seorang bidan,
mungkin juga seorang ibu bagi kita semua,
yang telah membantu kelahiran di banyak keluarga
utamanya yang tak mampu
dengan berbekal kearifan-kearifan lokal nusantara kita
dan tentu saja cinta.


Mungkin sekilas saja kita tahu dari Kick Andy
atau dari berbagai publikasi lainnya.
Dan mungkin pula hanya sebentar gambaran akan sosok ini bertengger di kepala kita.


Tapi coba tanya pada mereka yang ditolong
ataupun terlibat mengabdi berdampingan bersamanya
ataupun cobalah bertemu langsung menyaksikan dari dekat
atau bahkan mungkin langsung merasakan sentuhan pertolongannya.
Sosok ini tentu akan makin berarti dari sekedar teks-teks.


Saya beruntung berada di Bali.
Sempat melihat dari dekat sosoknya meskipun itu hanya saat presentasi.
Tapi saya lihat sendiri bagaimana ekspresi orang-orang yang pernah ditolongnya
ataupun orang-orang yang terlibat aktif dengannya.
Itu ekspresi-ekspresi luar biasa yang sulit dipetakan dengan kata-kata.


Seandainya rekan-rekan tak seberuntung saya
mungkin saja tulisan yang dibuat rekan-rekan akarumput.com ini,
'Pesan cinta dari Robin Lim',
masih bisa mewakili ribuan kata yang ingin saya utarakan.


Semoga saja kita masih punya cukup waktu dan kemampuan 
untuk bisa membaca dan meresapinya.
Dan semoga pula masih tersisa hari kita untuk sejenak memberikan dukungan.


Saya doakan rekan-rekan punya dan bisa.


------




(silakan klik Ibu dan bayi membutuhkan kamu atau Vote Robin Lim untuk CNN Hero 2011)



Selasa, 25 Oktober 2011

Gempa 6,8 SR dan Markas BDS


Gempa 6,8 SR Bali 13 Oktober 2011 bikin hati heboh.
Makin heboh lagi dengan bagaimana orang-orang Jakarta memberitakannya.
Saya sendiri tahu soal gempa heboh 6.8 SR ini dari televisi-televisi yang berpusat di Jakarta semua.
Maklum, saat itu masih di tempat tidur di kost dan masih berpikir cuma kepala sendiri yang goyang-goyang pasca heboh deadline pagi dinihari sebelumnya.
Tapi ternyata, sebagaimana orang-orang Jakarta menceritakannya, memang baru terjadi gempa yang cukup hebat, dan heboh!
Tingkat kehebohannya bisa diukur dari berapa lama 'breaking news' mengudara dan berapa banyak materi berita diulang-ulang (ini tentu untuk menguatkan betapa patut hebohnya suasana saat itu).
Bisa pula diukur dari seberapa banyak deringan panggilan menghampiri perangkat-perangkat canggih yang senantiasa mendampingi masing-masing manusia.
Kalau gempa beginian terjadi di rimba raya Papua mungkin lain cerita dari si Jakarta.


Tapi bayangan saya adalah bagaimana teman-teman di Markas BDS Bali.
Mereka prajurit-prajurit yang sudah terlatih dengan segala heboh-heboh beginian.
Gonjang-ganjing 6,8 SR mungkin tidak ada apa-apanya dibanding gonjang-ganjing revisi-revisi tugas yang tak pernah bisa diprediksi sebagaimana gempa yang tak bisa diramal, secanggih apapun perangkat teknologi inovasi Steve Job.
Saya yakin saat gempa semua kegiatan garis depan tetap berjalan.
Tak ada deadline ditunda. 
Tak ada lama-lama penyelamatan diri.
Bahkan makin banyak inspirasi-inspirasi baru.
Makin banyak revisi-revisi baru (pula).


(karena tak hadir saat gempa 6,8 SR dan tak ada jejak dokumentasi maka mungkin kira-kira situasi markas saat peristiwa seperti gambar berikut ini)




Mungkin perlu kita menyimak kata-kata bijak berikut (entah nyambung atau tidak, tapi kata-kata ini memang bijak!):


"Seorang arsitek yang baik tidak boleh ribut dan kacau dalam jiwanya. Ia harus mau meditasi, menghening agar refleksi ilham yang benar dapat tercermin hening."

- YB Mangunwijaya -


Meditasi, menghening, bahkan dalam kehebohan gempa.
........................................................

Sabtu, 22 Oktober 2011

Suatu Ketika Berjalan Kaki Ke Markas


Ini suatu hari yang agak berbeda di Sanur. Sabtu, 08 Oktober 2011.
Biasanya berangkat ke markas BDS (Bensley Design Studios) Bali menggunakan sepeda (markas? mungkin awam lebih senang menyebut kantor. Kalau yang ngakunya arsitek menyebut sebagai studio)  
Tapi kali ini terpaksa ke markas tanpa sepeda karena si sepeda musti turun mesin di depot perbaikan (sebagai dampak eksploitasi berlebih tanpa memeliharanya).

Dalam situasi tanpa sepeda begini maka keputusan paling logis adalah ikut numpang kendaraan teman untuk ke markas. Tapi ke markas di hari Sabtu untuk urusan rutin adalah menjemukan (ini harusnya hari bersenang-senang dengan waktu luang!). Maka keputusan logis dari masukkan variabel data beginian adalah: Jalan Kaki!
Makin lambat sampai tujuan makin baik.

Terasa sekali perbedaan perjalanan antara naik mobil, motor, sepeda, dan jalan kaki. Selain memang soal waktu tempuh dan kalori yang digunakan adalah soal bagaimana melihat sesuatu diperjalanan. Dengan berjalan kaki segala sesuatu jadi terlihat lebih akrab. Seolah dunia jadi berbeda warnanya. Dan seandainya teman-teman waktu itu ikut berjalan bersama maka mungkin juga akan melihat warna-warna berbeda itu. Dan kalaupun tidak, kiranya foto-foto ini bisa menggambarkan apa yang saya lihat selama perjalanan.

Tidak seluruh perjalanan. 
Hanya setengah terakhir saja. 
Ini Sabtu, 08 Oktober 2011.

Menuju jalan Tunjungsari dari jalan Batursari dengan penanda arah Cafe Tunjung Biru (01).