Sabtu, 11 Juni 2011

Logistik Satu Bulan

Ini lagi-lagi sedikit gambaran tentang mengapa prajurit di Kompi BDS Bali begitu disegani. Begini, para prajurit ini memiliki daya tahan luar biasa untuk bertugas (menatap layar) di garis depan (nyaris!) tanpa pulang berbulan-bulan. Tapi standar umumnya cukup satu bulan. Ini bukan kemampuan yang main-main dan asal-asalan. Ini kemampuan dengan tingkat kesulitan cukup tinggi dimana prajurit-prajurit ini harus mampu melawan rasa rindu terhadap hobi dan kesenangannya. Ada yang senang nyuci, senang masak, senang makan, senang baca, senang bugil (maksudnya mandi), senang ikan (bukan mancing, tapi pelihara), senang kumpul keluarga, senang shoping, senang demo, dll. (untuk yang senang gambar akan merasa sangat beruntung berada di Kompi ini)

Tapi untuk mendukung itu semua diperlukanlah suatu persiapan yang matang. Khususnya urusan logistik (perbekalan). Sekali lagi ini bukan main-main! Begini misalnya. Pada jam-jam tertentu seringkali tubuh lemas karena lapar kekurangan energi. Di sini sereal instan dan biskuit berenergi yang ringkas bisa berperan. Jika tetap lapar dan ditambah pula dengan bosan maka ada 'snack' ringan (jenis seperti kacang & kuaci dianjurkan jika kadar bosan lebih tinggi dari laparnya). Jika sudah kenyang tapi lemasnya tidak hilang (bahkan menjadi-jadi) maka keberadaan pil vitamin (suplemen-suplemen bergizi juga boleh) yang dipadu dengan minuman berenergi akan menjadi solusi tepat. Daya tahan tubuh akan terjaga secara konstan-konsisten (selama konstan-konsisten pula mengonsumsi benda-benda tadi) yang amat penting dalam menunjang tugas 1 bulan non-stop! Kopi instan (sebaiknya sih kopi yang bukan instan) tepat untuk jam-jam tertentu seperti jam 11 siang, 14-15 siang, apalagi jam 2-4 pagi di mana kantuk berada pada puncaknya. Jangan lupa juga meminum air mineral (air putih) seseringkali mungkin. Tiap prajurit sebaiknya mempersiapkan dan membawa selalu air mineralnya sendiri untuk antisipasi kelangkaan ketersediaan air di markas. Prajurit yang kehausan akan mengacaukan suasana garis depan yang memang sudah mencekam.

Di saat tubuh kenyang, energi full, daya tahan tubuh konstan-konsisten, kantuk lenyap, tetap saja selalu muncul perasaan kekosongan hidup. Seperti ada sesuatu yang hilang atau kurang dari hidup ini dan sesungguhnya itu persoalan mengenai 'kebahagiaan' yang bisa panjang upaya menjawabnya. Pada saat itulah kehadiran coklat sangat membantu. Ia mampu memicu endorfin yang secara instan meningkatkan rasa 'bahagia' (lebih tepatnya 'mood') sebagaimana yang dirasakan ketika orang pacaran atau melakukan kesenangan/hobi. Namun efektifitas kebahagiaannya tidak optimal pada saat-saat yang benar-benar serba darurat sekali di detik-detik terakhir (mengingatkan: coklat hanya menimbulkan rasa bahagia sesaat. Itupun dalam kondisi relatif stabil). Dalam keadaan kacau karena tekanan waktu dan mental seperti itu seringkali terjadi kecelakaan di garis depan. 'Persenjataan' yang lamban, serba macet, dan tua menambah frustasi yang bisa meledak jadi hantam-hantaman antar sesama prajurit. Di situlah gunanya kotak ringkas P3K yang berguna mengobati korban-korban luka (adanya kehadiran prajurit medik sangat membantu). Tapi kejadian seperti ini bisa diantisipasi dengan mengunyah permen karet. Sebagaimana diketahui permen karet mampu menciptakan rasa tenang meski dalam situasi sedarurat apapun (pelatih sepakbola di pinggir lapangan pertandingan, penembak jitu (sniper), penjinak bom umumnya kedapatan mengunyah permen karet saat darurat). Mengunyah permen karet juga memungkinkan wajah segar (karena olahraga otot wajah) dan mengantisipasi polusi bau (utamanya di pagi hari).

Dari sekian logistik di atas ada satu unsur logistik yang sudah menjadi kesepakatan umum tanpa perlu dirapatkan. Mie instan! Keberadaannya sudah pasti bisa dideteksi dalam tiap prajurit yang bertugas dalam situasi darurat di garis depan. Entah pagi, entah siang, entah sore, entah malam, entah pagi dini hari, selalu ada prajurit terlihat mengudap mie. Bukan karena hobi. Tapi karena itulah makanan utama yang mudah yang tersedia. Selain itu juga ini mungkin bagian dari penghayatan atas begitu daruratnya situasi-kondisi yang sedang dihadapi (sebagaimana pengungsi korban bencana yang senantiasa ditemani mie instan). Penghayatan seperti ini perlu karena dari situlah tubuh dan pikiran diperas dalam perasaan 'keterpojokannya' untuk bisa memberikan gagasan atau tindakan yang terbaik. Sederhananya karena ada adrenalin di situ (kreativitas dikontribusikan secara signifikan oleh adrenalin!). Dan prajurit Kompi BDS Bali selalu senang beradrenalin ria.

Maap, sampai di sini dulu gambarannya. Harap maklum ada panggilan tugas dari kapten di garis depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar